Welcome!

Karnoto Adalah Konsultan Brand Penulis

CatatanHarian Kontak






About Me

Download
PROFIL | KARNOTO
Fanspage
FACEBOOK | MASNOTO
Channel Youtube
ANATV OFFICIAL
Tentang Saya

Karnoto

Owner Maharti Networking

Penulis Buku Brand, Lahir di Brebes, Jawa Tengah pada 02 Mei 1980. Mantan Jurnalis Radar Banten (Jwa Pos Group), Mantan Jurnalis Warta Ekonomi Jakarta.

Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Universitas Mercu Buana, Jakarta. Sekarang menjadi Owner Maharti Networking sebuah usaha yang bergerak disejumlah bidang yaitu Media, Konsultan Brand, Jasa Pembuatan Website danToko Online .

Bisnis

Maharti Brand
Kunjungi Website Disini

Maharti Brand adalah lembaga konsultan brand yang melayani jasa branding, pembuatan website dan toko online dll

Maharti Citra Media
Kunjungi Website Disini

Maharti Citra Media bergerak dibidang media onlien, digital dan cetak ada dua media yaitu BantenPerspektif dan BisnisKita

Maharti BookStore
Order Klik Disini

Maharti BookStore adalah Toko Buku Online yang menjual berbagai macam buku mulai dari Buku Parenting, Biografi,Islami

Maharti Publishing
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Publishing bergerak dibidang penerbitan buku mulai dari desain buku, penulisan, editing dan percetakan buku

Maharti Food
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Food bergerak dibidang makanan dan minuman dengan konsentrasi pada produk UMKM yang jadi khas Indonesia

Maharti Eksotis
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Eksotis bergerak dibidang pariwisata dengan produk utama yaitu Wisata Kampung di Kabupaten Brebes

Maharti Land
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Land bergerak dibidang properti dengan konsentrasi sebagai broker atau agensi properti, ruko, kios dan tanah

Maharti School
Informasi Detail Klik Disini

Maharti School adalah sekolah digital yang mengajarkan Digital Marketing, Web Desain, Desain Grafis dan Jurnalistik

Catatan

Konflik dan Psikografis Politik



Politik itu seperti lautan konflik, jangan mendekat kalau tidak siap mental
~ Karnoto, Brand Consultant ~

Bukan ingin menakut - nakuti Anda yang baru mendekat atau tersesat di belantara politik. Bukan !Ini sekadar berbagi pengalaman saya selama menjalin "kemseraan" dengan hal - hal terkait politik. Baik pengalaman saat masih menjadi Jurnalis di Jawa Pos Group (Radar Banten), Jurnalis Majalah Warta Ekonomi Jakarta maupun interaksi dengan beberapa politisi.

Apa yang  saya tulis dalam ulasan di bawah ini sekadar berbagi melalui literasi. Bisa jadi benar pun tidak benar. Paling tidak saya menuliskan ini berdasarkan serpihan cerita tentang politik yang coba diracik melalui kata dan kalimat dengan bahasa yang mengalir.

Ulasan ini merupakan hasil dari puzzle yang saya dapatkan dari hasil memungut cerita para politisi, memungut pengalaman dan memungut bacaan. Saya ingin menyimpulkan terlebih dahulu tentang apa yang saya tulis nanti.

Jadi begini, mendekat apalagi "bermesraan" dengan dunia politik memang harus siap mental dan memahami psikografis medan politik. Medan politik disini bisa partai politik, bisa pilkada, bisa pilkades, bisa pileg dan lain sebaginya.

Bahkan medan politik juga seringkali terjadi dalam ruang birokrasi. Ini sangat terasa saat pilkada, meskipun disamar - samarkan tetapi sudah menjadi rahasia umum. Makanya jangan heran kalau pasca pilkada seringkali ada birokrat yang menjadi "korban" politik. Mulai dari mutasi jabatan sampai dinon jobkan dari jabatan strategis.

Ada seorang politisi yang semula disayang - sayang oleh seniornya, bahkan karir politiknya benar - benar disupport habis oleh sang senior. Bukan sekadar diberi akses, finansial pun diberikan. Hari demi hari, minggu demi minggu dan tahun demi tahun sang junior justru menjadi "musuh" karena terlibat konflik.

Pada kisah lain ada yang panas perih mendirikan partai politik bahkan menjadi tameng partai politik tersebut, kini justru ada di seberang menjadi lawan. Jangankan duduk sembari ngopi dan becanda, yang terjadi justru setiap hari saling sindir.

Pada kisah lain, ada yang dulu mantan sopir kini duduk di kursi merah alias pimpinan parlemen yang dulunya diincar oleh sang majikan. Itulah mengapa saya seringkali katakan jangan masuk ke arena politik kalau tidak mau berkonflik. Sebab partai apapun pasti akan menemui konflik. Jangankan antar partai, satu partai politik pun sering berantem, ribut dan saling tendang.

Itulah mengapa saya menyarankan Anda, terutama bagi para pemula pahami dulu psikografis medan politik sebelum berenang di kolam politik. Kalau tidak maka Anda akan kaget, asam urat kumat bahkan yang  mengkhawatirkan Anda terserang stroke.

Lalu apa itu psikografis medan politik? Paling tidak ada tiga dalam ruang psikografis, pertama adalah karakteristik, kedua gaya hidup dan ketiga adalah personality.

Saya jelaskan satu persatu. Pertama karakteristik, ketika Anda mau bermain - main ke medan politik maka harus tahu terlebih dahulu karakteristik medan tersebut.Misal, medan politik itu adalah partai politik maka Anda harus tahu karakteristiknya.

Tujuannya adalah agar Anda mempersiapkan untuk adaptasi. Karakteristik Partai Demokrat berbeda dengan Golkar. Begitu pun PKS dengan Gerindra, Nasdem dengan PDIP, PAN dengan partai lainnya. Pasti memiliki karakteristik masing - masing.

Karakteristik yang saya maksud disini adalah karakteristik organisasi. Menurut Kamisa, pengertian karakter adalah sifat – sifat kejiwaan, akhlak, dan budi pekerti yang dapat membuat seseorang terlihat berbeda dari orang lain. Berkarakter dapat diartikan memiliki watak dan juga kepribadian.

Kalau karakter menurut ulama Ibnu Qayim Al - Jauziah sendiri adalah kebiasaan yang dilakukan berulang - ulang. Intinya sih kebiasaan partai politik atau watak partai politik.

Biasanya karakteristik sebuah partai politik tercermin pada personality dan gaya hidup kader partai politik. Meski tidak bisa dipukul rata bahwa karakter personal seseorang mencerminkan karakter partainya, tetapi kita coba mengambil persepsi pada umumnya.

Inilah hal berikutnya yang perlu diketahui yaitu personality dan gaya hidup. Gaya hidup personality seorang kader partai politik pada umumnya mencerminkan karakter partai dimana kader tersebut bernaung.

Sekali lagi memang ini tidak bisa dipukul rata! Sebab ada fakta bahwa partai politik dengan karakter hijau (Islami - red) tetapi ada kader yang justru terlibat korupsi. Ada pula partai politik dengan karakter nasionalis tetapi perilaku kadernya justru tidak menunjukan seorang nasionalisme.

Itulah mengapa saya katakan tidak bisa dipukul rata. Meskipun itu hanya kasuistik karena secara umum kader partai politik akan mencerminkan karakter partai politik itu sendiri. Itulah tiga hal psikografis medan politik.

Memang tidak ada jaminan juga ketika Anda mengetahui atau kuda - kuda akan terbebas dari rumitnya persoalan di rumah tangga politik. Terbukti mereka yang sudah berenang lama ada yang masih kaget.

Selamat berenang di kolam politik bagi Anda yang mulai masuk dan beli tiket masuk. Hati - hati disana karena meski air kolamnya tenang tapi cukup membahayakan. Untuk Anda yang sudah merasa "sakti" tetap cerdik melihat situasi supaya tidak terkena "peluru nyasar" karena nanti bisa "mati" penasaran.

Dan buat Anda yang sekarang sedang bergulat dengan konflik politik, saya sarankan jangan lari. Hadapi saja ! Karena dimanapun Anda berlabuh dalam sebuah partai politik, pasti akan menemui konflik. Kalau toh lari atau menepi mencari suaka baru, belajarlah untuk dewasa tentang memaknai konflik. Tidak mudah memang, tapi ini keniscayaan supaya tidak terperosok ke lubang yang sama.

Penulis,
Karnoto  | Brand Consultant

Belajar Adu Debat Dari Sahabat Nabi



Salah satu serangan yang tidak bisa dihindari dalam sosial politik adalah black campaign. Lalu seperti apa para sahabat Nabi Muhammad Saw menetralisir black campaign?


Istilah black campaign mulai popular sekira tahun 1936 dengan istilah smear campaign. Dalam istilahnya seperti dilansir wikipedia dengan referensi tertulis Jay C. Thomas, Michel Hersen (2002), black campaign adalah sebuah upaya untuk merusak reputasi seseorang dengan melakukan propaganda negatif. 

Dalam konteks sosial politik modern, black campaign selalu menjadi perbincangan publik terutama pada momentum politik, seperti pemilihan kepala daerah, pemilihan presiden dan wakil presiden dan pemilihan legislatif bahkan pemilihan kepala desa sekalipun atau pemilihan organisasi sosial masyarakat.

Termasuk dalam bidang bisnis, black campaign antara satu produk dengan produk yang lain sering terjadi. Baik dilakukan secara terbuka ataupun melalui komunikasi pemasaran melalui iklan. Kalau Anda pernah ingat ada iklan operator selular yang membuat konten promosi yang menyerang operator lainnya. "Jangan mau dibohongi anak kecil," itu salah satu konten iklan yang muncul dan tendensius menyerang iklan operator yang sebelumnya mengatakan bahwa produknya adalah yang paling murah.

Dalam politik apalagi, pasti lebih sering terjadi. Bahkan terhadap Agama (Islam) sendiri mendapat black campaign dari para phobia Islam. Ada yang melakukan demarketisasi kalau Islam adalah agama kekerasan, tidak menghargai wanita dan yang pernah ramai adalah Islam sebagai agama radikal dan teroris. Sebagai seorang yang konsen dengan citra, media, komunikasi saya merasa terusik untuk mencari tahu, apakah black campaign baru ada dalam kehidupan sosial politik modern atau sudah terjadi sejak lama.

Sebagai seorang muslim saya penasaran apakah ada kisah di zaman Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya perihal black campaign? Dan setelah saya baca tiga buah buku yang mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW, mulai dari Sirrah Nabawiyah, History of the Arab (Phillip K . Hitti, penulis non muslim yang objektif) dan terakhir adalah The Great Story Muhammad, disana saya menemukan kisah bagaimana umat muslim ketika itu mendapat serangan black campaign musuh - musuhnya.

Ada yang memang langsung diladeni dengan dialektika dengan publik, ada pula yang dibiarkan seperti angin berlalu tergantung tingkat efeknya. Salah satu orang yang paling getol melakukan black campaign adalah Abu Jahal. Jika dilihat dari silsilah keturunan, laki - laki ini masih memiliki hubungan kerabat dengan Nabi Muhammad SAW. 

Konten black campaign yang dilontarkan Abu Jahal kepada Nabi Muhammad SAW, diantaranya menyebutkan Muhammad tukang sihir, gila, tukang bohong. Dari sekian aksi black campaign yang dialamatkan kepada umat muslim ketika itu ada yang menarik perhatian saya dalam konteks komunikasi, karena disampaikan dalam kancah internasional.

Jika Abu Jahal melakukan black campaign lebih banyak di internal Mekkah, maka ada salah satu kisah dialektika antara umat Islam dengan perwakilan Quraisy yang juga satu geng dengan Abu Jahal dan itu disampaikan di luar Mekkah, yaitu di depan Raja Habasyah yang bernama Najasyi. Disinilah krusialnya, karena jika para sahabat nabi ketika itu tidak mampu meyakinkan Raja Habasyah maka efeknya mereka akan dikembalikan ke Mekkah dengan konsekuensi akan kembali mendapat kezaliman dari Abu Jahal CS.

Diceritakan dalam buku The Great Story Muhammad pada bagian Hijrah ke Habasyah, sejumlah sahabat mencari suaka ke Habasyah, sebuah kerajaan yang dipimpin seorang nasrani dibawah kooptasi Persia. Namun meski Nasrani, ia dikenal raja yang berlaku adil, itulah alasan mengapa Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabatnya mencari suaka ke kerajaan tersebut.

Habasyah kalau kita kenal sekarang adalah Ethiopia. Perjalananya lumayan jauh karena harus melewati Laut Merah. Pada pencarian suaka pertama mereka menggunakan jalur Mekkah, Jeddah, Sawakin baru sampai ke Habasyah. Namun pada perjalanan kedua mereka menggunakan jalur Mekkah, Asy Syuaibah, Al Lits, Al Qunfadzah, Musawwa baru sampai di Habasyah.

Uniknya orang - orang yang diperintahkan mencari suaka ke Habasyah beberapa diantaranya adalah middle class muslim dikalangan para sahabat, meski ada dari kalangan grasroot. Kelas menengah yang diperintahkan diantaranya, Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah Saw, Abdurrahman bin Auf, Ja'far bin  Abu Thalib.

Nabi Muhammad seperti sudah mengetahui bahwa di negeri nan jauh itu harus ada perwakilan dari orang - orang terdidik, kelas menengah agar bisa melakukan komunikasi dengan baik kepada pihak kerajaan yang akan menjadi tempat suaka mereka. Singkat cerita, pencarian suaka para sahabat diketahui oleh orang - orangnya Abu Jahal yang selama ini memusuhi.

Dari sinilah mulai mereka memutar otak agar para sahabat tidak diterima dan dikembalikan lagi ke Mekkah oleh Raja Habasyah. Mereka tahu, di kerajaan Habasyah tidak bisa memakai kekerasan karena rajanya adil. Maka mereka pun mengutus diplomasi handalnya dengan harapan bisa melakukan black campaign terhadap para sahabat nabi yang sudah sampai di Habasyah.

Amru bin Al Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah, dua orang ini diutus oleh Quraisy untuk melakukan demarketisasi para sahabat nabi. Dan cermati konten dua orang ini di hadapan Raja Habasyah, di dunia internasional.  Pinternya Quraisy adalah memberikan hadiah terlebih dahulu kepada sang raja, dalam lobi masa kini tentu ini menjadi sesuatu yang lazim.

"Wahai tuan raja, sungguh beberapa orang yang masih bau kencur dan bodoh telah memasuki negeri tuan. Mereka meninggalkan Agama kaumnya dan tak memeluk Agamamu," ini konten pertama yang mereka sampaikan di depan Raja Habasyah.

Sekarang kita amati konten di atas dalam perspektif komunikasi politik, dimana kata dan kalimat memiliki makna, maka disana ada kepiawaian mereka dalam mengolah kata untuk memengaruhi publik. Pertama, kata orang bodoh, konten ini sengaja menjadi massage pembuka dua orang Quraisy itu agar sang raja langsung memiliki persepsi negatif kepada para sahabat dan utusan Nabi Muhammad tersebut.

Padahal, dua orang Quraisy itu mengetahui bahwa diantara para sahabat nabi tersebut adalah kalangan terdidik, kelas menengah, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Ja'far bin Abu Thalib. Mereka adalah middle class muslim yang diutus ke Habasyah. Namun dua diplomat Quraisy itu ingin menghancurkan reputasi para sahabat dengan menyebut mereka dari kalangan orang - orang lapisan bawah, tidak terdidik.

Konten kedua yang disampaikan dua perwakilan Quraisy adalah "Tak Memeluk Agamamu". Mu disini maksudnya adalah Agama sang Raja Habasyah. Dalam konteks  ilmu komunikasi politik, mendekatkan isu dengan audiens akan memiliki dampak emosional. Ketika kita sedang kampanye di suatu daerah lalu kita mendekatkan budaya kita dengan lokasi dimana kita kampanye akan memiliki efek emosional yang berbeda.

Misal, Ibu dan bapak saya dulu sempat tinggal di daerah ini 10 tahun dan memiliki kerabat di daerah ini. Jadi daerah ini sudah seperti tanah kelahiran saya. Konten ini jelas akan memiliki efek psikologis yang berbeda ketika kita tidak menceritakan kedekatan kita dengan budaya publik yang kita hadapi. Nah, dua perwakilan Quraisy itu pintar karena mencoba memberikan injeksi psikologis kepada sang raja dengan mengatakan para sahabat nabi tersebut tidak memeluk Agamamu (raja).

Kalimat kedua yang disampaikan mereka lainnya adalah "Kami di sini sebagai utusan kepadamu. Diantara orang yang mengutus kami, ada pemuka dari mereka (sahabat nabi) dan paman - paman mereka dan mereka meminta agar tuan mengembalikan para pendatang (sahabat nabi) itu ke Mekkah"

Coba amati lagi konten orang Quraisy ini, pertama mereka mengklaim bahwa tokoh yang para sahabat hormati dan segani yang berada di Mekkah mengutus mereka dan meminta agar raja mengembalikan para sahabat nabi ke Mekkah. Padahal faktanya, yang mengutus mereka adalah Abu Jahal dan kawan - kawan yang notebene memusuhi para sahabat nabi.

Sedangkan kerabat dan orang - orang yang mereka segani tidaklah mengutus mereka, termasuk Nabi Muhammad saw. Mereka berusaha membolak balikan fakta untuk memengaruhi Raja Habasyah. Beruntung Raja Habasyah melakukan konfrontasi dengan para sahabat nabi dan dipanggilah para sahabat nabi dalam satu forum di depan raja.

Lalu raja menyampaikan tudingan dua pewakilan Quraisy tersebut kepada para sahabat nabi. Raja meminta salah satu diantara sahabat nabi menjadi juru bicara untuk mengkontrontir tudingan utusan Quraisy tersebut. Ja'far bin Abu Thalib menjadi juru bicara di momentum diplomasi tersebut karena ia memang dikenal mampu melakukan komunikasi publik dengan baik.

Dan coba cermati konten yang disampaikan Ja'far bin Abu Thalib untuk menteralisir tudingan orang Quraisy di forum internasional.
"Wahai paduka raja, kami sebelumnya hidup dalam jahiliah (kebodohan), orang kuat diantara kami memakan yang lemah. Kami melupakan hak hak bertetangga dan memutus silaturahim, hingga datang seorang laki - laki yang kami ketahui nasabnya, akhlaknya dan sifat amanahnya," kata Ja'far.

Sekarang kita cermati konten komunikasi di atas. Pertama, "kami sebelumnya hidup dalam jahiliah"
konten ini tak lain untuk mengkounter tudingan dua perwakilan orang Quraisy bahwa para sahabat nabi adalah orang bodoh. Disini satu pointer dinetralisir oleh para sahabat dengan konten yang tepat, fokus dan mengena.

Konten kedua, "Orang kuat diantara kami memakan yang lemah," atau lebih tepatnya zalim. Konten komunikasi ini untuk membawa emosi sang raja yang terkenal adil dan tidak menyukai kedzaliman. Makanya konten ini sangat emosional bagi sang raja seperti halnya konten Agamamu yang disampaikan dua perwakilan Quraisy.

Kalimat Ja'far selanjutnya adalah, "Dia (Nabi Muhammad) mengajak kami masuk Islam, berkata dengan jujur, menunaikan amanah, menyambung silaturahim dan berbuat baik kepada tetangga. Tapi apa yang terjadi, kaum kami justru memusuhi kami, menyiksa dan menindas kami. Maka Nabi Muhammad memerintahkan kami hijrah ke kerajaan tuan raja, dimana anda dikenal raja yang adil dan tidak melakukan kezaliman kesiapapun,"

Pada konten, "Tapi apa yang terjadi, kaum kami justru memusuhi dan menzalimi kami" disinilah pointer paling menusuk dua utusan Quraisy tersebut. Sebelumnya mereka mengatakan kalau mereka diutus oleh keluarga dan sesepuh para sahabat nabi agar raja mengembalikan ke Mekkah, tapi hal itu langsung dinetralisir bahwa mereka mendapat perlakuan yang tidak adil dari kelompok mereka sendiri yang sebelumnya mengklaim sebagai utusan sesepuh sahabat nabi.

Selanjutnya pada konten "Nabi Muhamad SAw memerintahkan kami hijrah ke kerajaan tuan, dimana Anda dikenal sebagai raja yang adil dan tidak melakukan kezaliman kepada siapapun,". Ini pujian para sahabat kepada Raja Habasyah, ada  efek dalam konteks komunikasi,  pujian ini sebagai ganti hadiah karena dua orang Quraisy memberikan hadiah dalam bentuk fisik, tetapi para sahabat memberikan hadiah pujian yang justru memiliki efek psikologis lebih ketimbang hadiah materi, mengingat Habasyah tidak kekurangan materi.

Kisah di atas menjadi penting dalam konteks komunikasi publik, public speaking, public relation dan bagaimana cara memengaruhi persepsi publik dan meyakinkan publik. Sepintas mudah, tapi pada praktiknya kemampuan ini membutuhkan orang - orang yang pandai dalam merangkai konten komunikasi, membuat artikulasi kata dan kalimat agar memiliki makna dalam sehingga mampu meyakinkan. Tak hanya itu, dibutuhkan juga performance yang meyakinkan saat menyampaikan komunikasi tersebut. Dan Ja'far bin Abu Thalib sukses sebagai seorang public relation, diplomat muslim.

Sebuah skill yang tidak semua orang memiliki. Dalam ilmu sosial politik modern, kemampuan komunikasi menjadi hal yang sangat penting. Karena mereka akan menjadi sorotan publik dan memengaruhi persepsi publik yang ujungnya adalah meyakinkan publik.

Penulis,
Karnoto
#Pernah Studi Ilmu Komunikasi Jurusan Marketing Communication Advertising
di Universitas Mercu Buana, Jakarta.
#Mantan Jurnalis Jawa Pos Group (Radar Banten)
#Mantan Jurnalis Warta Ekonomi, Jakarta
#Founder Maharti Networking
       



Media Massa dan Uang



Media massa dapat memengaruhi cara Anda menggunakan suara 
dan cara Anda membelanjakan uang.
~ Shirley Biagi ~



Suatu ketika saya menghadiri MediaGathering yang digelar oleh salah satu perusahaan otomotif ternama di Indonesia. Waktu itu acaranya di salah satu hotel di Kawasan Senayan, Jakarta. Hadirlah disana para wartawan dari berbagai media termasuk saya sendiri yang mewakili dimana saya bekerja. Usai acara kami foto - foto bersama dengan panitia dan para leader di perusahaan tersebut. Jujur, sejak menjadi wartawan saya tidak terlalu gimana gitu foto - foto dengan pejabat ataupun tokoh, biasa saja sih.

Mungkin karena sering ketemua dengan para tokoh jadi tidak begitu istimewa buat saya, biasa saja!.Namun bukan itu yang ingin saya ceritakan pada tulisan kali ini, tetapi ingin merangkai kata demi kata perihal media dan uang.

Publik pasti mahfum bahwa media memang berdiri didua kaki, kaki pertama idealisme bagaimana mencerdaskan pembaca dan turut serta membangun peradaban sebuah negara sementara kaki yang satunya menginjakan pada realitas dimana layaknya sebuah perusahaan maka harus ada cashflow yang baik soal finansial.

Sama seperti dalam sebuah lembaga pendidikan, dimana ia harus berdiri sebagai institusi pendidikan dengan idealisme mencerdaskan anak bangsa, sisi lain lembaga pendidikan juga harus mampu "menghidupi" operasional, mulai dari gaji guru, biaya listrik, biaya ATK dan lain sebagainya.

Pada konteks itu, kita tidak bisa menyalahkan sebuah perusahaan media yang mencoba"nakal" dan tampak lebih condong dengan identias sebagai perusahaan murni dibandingkan media dalam posisinya sebagai instrumen demokrasi atau pencerahan.

Dari sisi konten, media massa juga tidak bisa disalahkan ketika membuat framing mengarah pada hal tertentu. Asalkan sudah memenuhi asas keberimbangan maka media massa tersebut sudah benar kendati framingnya diarahkan ke isu tertentu.

Keberpihakan inilah yang sering menjadi pro kontra ditengah - tengah masyarakat. Tetapi sebenarnya kalau ada media massa yang mengambil posisi berpihak dengan meracik konten berita maka publik sebenarnya secara otomatis akan memberikan sanksi sosial berupa ketidakpercayaan.

Dan sanksi sosial ini kalau berlanjut terus menerus maka akan menjadi bom waktu bagi keberlangsungan media massa tersebut secara bisnis. Sebab media massa mengandalkan trush dari publik, karena itu merupakan produk utama dari sebuah media massa.

Penjelasan di atas itu dalam konteks politik.Lalu bagaimana dalam konteks bisnis? Sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya saja pada produk komersialserinngya tampil dengan bentuk iklan, baik iklan display, iklan visual maupun advertorial (iklan dalam bentuk berita).

Jadi, kesimpulannya adalah media massa memang membutuhkan uang karena  media massa juga sama seperti perusahaan komersial lainnya. Media massa juga menjadi media politik sekaligus media bisnis.

Saya sendiri mengelola sebuah media online  BANTENPERSPEKTIF, media online lokal yang sudah memiliki PT, SIUP, SITU, SK KemenkumHAM. hanya memang belum didaftarkan di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

BANTENPERSPEKTIF saya dirikan sebenarnya lebih kepada aktualisasi menulis saya pasca resign dari wartawan dibeberapa media mainstrem. Meskipun memiliki kebebasan yang luas, tapi saya berpegang teguh untuk tidak menuliskan berita hoax seperti media partisan lainnya.

Paling tidak ada dua alasan, pertama kontra batin dengan pribadi saya karena itu bagian dari dosa dan kedua adalah saya tidak mau berurusan dengan hukum dan mendapatkan sanksi sosial dari publik yang selama ini terawat.

Penulis,
Karnoto

Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com