Januari 03, 2020

Percakapan Toleransi, Sajian Menu Basi
SumberFoto: Internet

Entah persisnya sejak kapan hari demi hari percakapan tema - tema toleransi dan NKRI semakin menguap. Dalam perspektif politik, sebagian orang menganalisa bahwa percakapan ini sengaja diletupkan ditengah kegagalan pemerintah menepati janji - janji politiknya. Janji menaikan perekonomian hingga 7 persen, janji tidak menaikan tarif dasar listrik dan rentetan janji - janji lainnya yang sampai sekarang tidak mampu ditunaikan.

Dalam bahasa sederhananya adalah isu percakapan toleransi dan NKRI sebagai upaya untuk mengalihkan isu kegagalan tersebut. Benar atau tidak tentang pendapat ini, Anda bisa merasakan sendiri dengan nurani Anda.

Saya sendiri punya pengalaman perihal toleransi, persisnya sejak masih sekolah di SLTA. Waktu itu dalam satu kelas ada seorang teman yang beragama Kristen dan tidak pernah ada masalah soal toleransi.

Ketika pelajaran Agama (Islam), teman saya diberikan kebebasan apakah mau mengikuti pelajaran atau ke kantin atau ke perpustakaan. Terkadang teman saya ikut pelajaran Agama (Islam) terkadang dia memilih keluar ruang kelas. Ga ada masalah tentang toleransi karena sepanjang setahun satu kelas dengannya tidak pernah ada pembahasan atau bully atau percakapan perihal Agama.

Pengalaman perihal toleransipun saya dapatkan ketika kuliah di Jakarta. Dalam satu ruang kelas kita bercampur dengan beragam Agama, ada yang Islam, Hindu dan Kristen dan kita tidak pernah ada masalah perihal toleransi.

Foto Pribadi:saya dan teman sekelas waku kuliah di Fak.Ilmu Komunikasi Jurusan Marketing Communication Advertising Univ.Mercu Buana, Jakarta. Mereka ada yang Kristen,Konghucu dan Islam. Kami saling menghargai dan tak pernah telribat percakapan soal toleransi dan Agama kita masing  - masing.

Bahkan, teman saya seorang non muslim selalu mengingatkan saya ketika waktu shalat tiba. "Sudah Adzan tuh, ga shalat dulu kamu," katanya kepada saya. Saya juga terlibat diskusi dengan teman yang beragama Hindu dan sama sekali tidak pernah ada percakapan yang berujung percikan api karena soal beda Agama dan keyakinan.

Dan saya pun tak pernah menyinggung soal keyakinan mereka, saya lebih tertarik untuk menyajikan menu menyehatkan dalam percakapan, seperti soal bisnis, peluang usaha dan percakapan - percakapan lain yang menyehatkan fikiran.

Pertanyaanya kenapa akhir - akhir ini percakapan toleransi seperti menjadi santapan yang sengaja disajikan oleh orang - orang tertentu padahal tahu kalau menu itu cukup sensitif sehingga potensial menimbulkan percikan api.

Apakah sengaja menu percakapan toleransi disajikan untuk menutupi menu lain yang sebenarnya lebih riil didepan mata? Lagi - lagi Andalah yang bisa menyimpulkan dengan nurani. Percakapan yang juga tak kalau hotnya adalah soal percakapan NKRI.

Ada sekelompok yang merasa diri paling NKRI dan menuding kelompok lain anti NKRI hanya karena penampilan fisik seperti bercadar, berhijab panjang,berjenggot dan celana cingkrang. Terus terang menurut saya ini konyol banget dan jelas sajian menu yang membosankan karena sudah basi.

Menu basi disajikan kembali dan tentu hasilnya membuat orang yang menikmati merasa eneg dan tidak menyehatkan. Siapapun warga Indonesia yang cinta dengan KeIndonesiaaan sudah pasti mecintai Indonesia, kecuali mereka yang memiliki cinta palsu, pura - pura bela NKRI padahal hanya ingin mendapatkan materi dari isu ini. Siapa mereka? Anda cerna sendiri dengan nurani.

Uniknya isu ini justru ramai dikalangan Muslim sendiri yang memiliki perbedaan mainstream dan gaya dakwahnya. Sementara pada hubungan dengan non Muslim justru tidak ada masalah, karena mereka yang non Muslim justru mengerti tentang makna toleransi dan mencintai NKRI.

Mereka menghargai peran umat Muslim yang besar di Indonesia, sebaliknya umat Muslimpun mengerti bahwa ada peran dari mereka yang beragama non Muslim. Sangat indah dan itulah yang jauh - jauh hari terjadi sebelum isu toleransi dan percakapan NKRI digoreng sedemikian rupa sampai menimbulkan percikan api.

Semoga percakapan - percakapan dikemudian hari kita memiliki kemajuan, tak sekadar menyantap isu toleransi tetapi mendapatkan menu baru yang fresh dan semua golongan bisa menikmati menu itu karena diyakini menyehatkan.

Menyehatkan fikiran dan akal serta menyehatkan hubungan sosial karena memang jauh - jauh hari hubungan itu tak pernah bermasalah oleh perbedaan Agama. Percakapan tentang toleransi sebenarnya sudah menjadi saling pengertian tetapi karena ulah sekelompok orang percakapan ini berbuah kebencian.

Jangan lagi santap percakapan itu karena itu menguntungkan mereka yang menyajikan demi materi, jangan taruh menu ini diatas meja makan karena ini membuat penyakit, penyakit akal dan fikiran serta hubungan sosial.

Dan kalau ada yang menawarkan menu sajian percakapan ini tolaklah mereka karena itu menjadi pelajaran bagi mereka. Semoga kita mendapatkan menu percakapan yang mengasyikan, menyegarkan dan menyehatkan.

Salam,
Karnoto






Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com