Februari 05, 2020

Media Massa dan Uang


Media massa dapat memengaruhi cara Anda menggunakan suara 
dan cara Anda membelanjakan uang.
~ Shirley Biagi ~



Suatu ketika saya menghadiri MediaGathering yang digelar oleh salah satu perusahaan otomotif ternama di Indonesia. Waktu itu acaranya di salah satu hotel di Kawasan Senayan, Jakarta. Hadirlah disana para wartawan dari berbagai media termasuk saya sendiri yang mewakili dimana saya bekerja. Usai acara kami foto - foto bersama dengan panitia dan para leader di perusahaan tersebut. Jujur, sejak menjadi wartawan saya tidak terlalu gimana gitu foto - foto dengan pejabat ataupun tokoh, biasa saja sih.

Mungkin karena sering ketemua dengan para tokoh jadi tidak begitu istimewa buat saya, biasa saja!.Namun bukan itu yang ingin saya ceritakan pada tulisan kali ini, tetapi ingin merangkai kata demi kata perihal media dan uang.

Publik pasti mahfum bahwa media memang berdiri didua kaki, kaki pertama idealisme bagaimana mencerdaskan pembaca dan turut serta membangun peradaban sebuah negara sementara kaki yang satunya menginjakan pada realitas dimana layaknya sebuah perusahaan maka harus ada cashflow yang baik soal finansial.

Sama seperti dalam sebuah lembaga pendidikan, dimana ia harus berdiri sebagai institusi pendidikan dengan idealisme mencerdaskan anak bangsa, sisi lain lembaga pendidikan juga harus mampu "menghidupi" operasional, mulai dari gaji guru, biaya listrik, biaya ATK dan lain sebagainya.

Pada konteks itu, kita tidak bisa menyalahkan sebuah perusahaan media yang mencoba"nakal" dan tampak lebih condong dengan identias sebagai perusahaan murni dibandingkan media dalam posisinya sebagai instrumen demokrasi atau pencerahan.

Dari sisi konten, media massa juga tidak bisa disalahkan ketika membuat framing mengarah pada hal tertentu. Asalkan sudah memenuhi asas keberimbangan maka media massa tersebut sudah benar kendati framingnya diarahkan ke isu tertentu.

Keberpihakan inilah yang sering menjadi pro kontra ditengah - tengah masyarakat. Tetapi sebenarnya kalau ada media massa yang mengambil posisi berpihak dengan meracik konten berita maka publik sebenarnya secara otomatis akan memberikan sanksi sosial berupa ketidakpercayaan.

Dan sanksi sosial ini kalau berlanjut terus menerus maka akan menjadi bom waktu bagi keberlangsungan media massa tersebut secara bisnis. Sebab media massa mengandalkan trush dari publik, karena itu merupakan produk utama dari sebuah media massa.

Penjelasan di atas itu dalam konteks politik.Lalu bagaimana dalam konteks bisnis? Sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya saja pada produk komersialserinngya tampil dengan bentuk iklan, baik iklan display, iklan visual maupun advertorial (iklan dalam bentuk berita).

Jadi, kesimpulannya adalah media massa memang membutuhkan uang karena  media massa juga sama seperti perusahaan komersial lainnya. Media massa juga menjadi media politik sekaligus media bisnis.

Saya sendiri mengelola sebuah media online  BANTENPERSPEKTIF, media online lokal yang sudah memiliki PT, SIUP, SITU, SK KemenkumHAM. hanya memang belum didaftarkan di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

BANTENPERSPEKTIF saya dirikan sebenarnya lebih kepada aktualisasi menulis saya pasca resign dari wartawan dibeberapa media mainstrem. Meskipun memiliki kebebasan yang luas, tapi saya berpegang teguh untuk tidak menuliskan berita hoax seperti media partisan lainnya.

Paling tidak ada dua alasan, pertama kontra batin dengan pribadi saya karena itu bagian dari dosa dan kedua adalah saya tidak mau berurusan dengan hukum dan mendapatkan sanksi sosial dari publik yang selama ini terawat.

Penulis,
Karnoto

Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com