Welcome!

Karnoto Adalah Konsultan Brand Penulis

CatatanHarian Kontak






About Me

Download
PROFIL | KARNOTO
Fanspage
FACEBOOK | MASNOTO
Channel Youtube
ANATV OFFICIAL
Tentang Saya

Karnoto

Owner Maharti Networking

Penulis Buku Brand, Lahir di Brebes, Jawa Tengah pada 02 Mei 1980. Mantan Jurnalis Radar Banten (Jwa Pos Group), Mantan Jurnalis Warta Ekonomi Jakarta.

Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Universitas Mercu Buana, Jakarta. Sekarang menjadi Owner Maharti Networking sebuah usaha yang bergerak disejumlah bidang yaitu Media, Konsultan Brand, Jasa Pembuatan Website danToko Online .

Bisnis

Maharti Brand
Kunjungi Website Disini

Maharti Brand adalah lembaga konsultan brand yang melayani jasa branding, pembuatan website dan toko online dll

Maharti Citra Media
Kunjungi Website Disini

Maharti Citra Media bergerak dibidang media onlien, digital dan cetak ada dua media yaitu BantenPerspektif dan BisnisKita

Maharti BookStore
Order Klik Disini

Maharti BookStore adalah Toko Buku Online yang menjual berbagai macam buku mulai dari Buku Parenting, Biografi,Islami

Maharti Publishing
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Publishing bergerak dibidang penerbitan buku mulai dari desain buku, penulisan, editing dan percetakan buku

Maharti Food
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Food bergerak dibidang makanan dan minuman dengan konsentrasi pada produk UMKM yang jadi khas Indonesia

Maharti Eksotis
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Eksotis bergerak dibidang pariwisata dengan produk utama yaitu Wisata Kampung di Kabupaten Brebes

Maharti Land
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Land bergerak dibidang properti dengan konsentrasi sebagai broker atau agensi properti, ruko, kios dan tanah

Maharti School
Informasi Detail Klik Disini

Maharti School adalah sekolah digital yang mengajarkan Digital Marketing, Web Desain, Desain Grafis dan Jurnalistik

Catatan

Media Massa dan Uang



Media massa dapat memengaruhi cara Anda menggunakan suara 
dan cara Anda membelanjakan uang.
~ Shirley Biagi ~



Suatu ketika saya menghadiri MediaGathering yang digelar oleh salah satu perusahaan otomotif ternama di Indonesia. Waktu itu acaranya di salah satu hotel di Kawasan Senayan, Jakarta. Hadirlah disana para wartawan dari berbagai media termasuk saya sendiri yang mewakili dimana saya bekerja. Usai acara kami foto - foto bersama dengan panitia dan para leader di perusahaan tersebut. Jujur, sejak menjadi wartawan saya tidak terlalu gimana gitu foto - foto dengan pejabat ataupun tokoh, biasa saja sih.

Mungkin karena sering ketemua dengan para tokoh jadi tidak begitu istimewa buat saya, biasa saja!.Namun bukan itu yang ingin saya ceritakan pada tulisan kali ini, tetapi ingin merangkai kata demi kata perihal media dan uang.

Publik pasti mahfum bahwa media memang berdiri didua kaki, kaki pertama idealisme bagaimana mencerdaskan pembaca dan turut serta membangun peradaban sebuah negara sementara kaki yang satunya menginjakan pada realitas dimana layaknya sebuah perusahaan maka harus ada cashflow yang baik soal finansial.

Sama seperti dalam sebuah lembaga pendidikan, dimana ia harus berdiri sebagai institusi pendidikan dengan idealisme mencerdaskan anak bangsa, sisi lain lembaga pendidikan juga harus mampu "menghidupi" operasional, mulai dari gaji guru, biaya listrik, biaya ATK dan lain sebagainya.

Pada konteks itu, kita tidak bisa menyalahkan sebuah perusahaan media yang mencoba"nakal" dan tampak lebih condong dengan identias sebagai perusahaan murni dibandingkan media dalam posisinya sebagai instrumen demokrasi atau pencerahan.

Dari sisi konten, media massa juga tidak bisa disalahkan ketika membuat framing mengarah pada hal tertentu. Asalkan sudah memenuhi asas keberimbangan maka media massa tersebut sudah benar kendati framingnya diarahkan ke isu tertentu.

Keberpihakan inilah yang sering menjadi pro kontra ditengah - tengah masyarakat. Tetapi sebenarnya kalau ada media massa yang mengambil posisi berpihak dengan meracik konten berita maka publik sebenarnya secara otomatis akan memberikan sanksi sosial berupa ketidakpercayaan.

Dan sanksi sosial ini kalau berlanjut terus menerus maka akan menjadi bom waktu bagi keberlangsungan media massa tersebut secara bisnis. Sebab media massa mengandalkan trush dari publik, karena itu merupakan produk utama dari sebuah media massa.

Penjelasan di atas itu dalam konteks politik.Lalu bagaimana dalam konteks bisnis? Sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya saja pada produk komersialserinngya tampil dengan bentuk iklan, baik iklan display, iklan visual maupun advertorial (iklan dalam bentuk berita).

Jadi, kesimpulannya adalah media massa memang membutuhkan uang karena  media massa juga sama seperti perusahaan komersial lainnya. Media massa juga menjadi media politik sekaligus media bisnis.

Saya sendiri mengelola sebuah media online  BANTENPERSPEKTIF, media online lokal yang sudah memiliki PT, SIUP, SITU, SK KemenkumHAM. hanya memang belum didaftarkan di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

BANTENPERSPEKTIF saya dirikan sebenarnya lebih kepada aktualisasi menulis saya pasca resign dari wartawan dibeberapa media mainstrem. Meskipun memiliki kebebasan yang luas, tapi saya berpegang teguh untuk tidak menuliskan berita hoax seperti media partisan lainnya.

Paling tidak ada dua alasan, pertama kontra batin dengan pribadi saya karena itu bagian dari dosa dan kedua adalah saya tidak mau berurusan dengan hukum dan mendapatkan sanksi sosial dari publik yang selama ini terawat.

Penulis,
Karnoto






Menanti Lawan Tatu Chasanah



Dalam sebuah obrolan disalah satu kafe di Kota Serang, Propinsi Banten temen saya berseloroh begini."Kalau ada orang yang berhasil mengalahkan Tatu Chasanah (Calon Bupati Serang incumbent)  maka itu artinya dia telah memenangkan dua pilkada," kata dia.

Teman saya pun menjelaskan runutannya secara detail. Menurut dia, positioning Tatu Chasanah sekarang adalah simbol kebesaran keluarga Ratu Atut Chosiyah (Eks.Gubernur Banten). Meskipun ada nama Andika Hazrumy (Wakil Gubernur Banten) dan Airin Rachmi Diany (Wali Kota Tangerang Selatan), namun ketokohan Tatu di level propinsi jauh lebih kuat.

Alasannya, selain Tatu Chasanah adalah Bupati Serang juga Ketua DPD Golkar Propinsi Banten. Dan hanya Tatu yang masih bertahan dari garis keturunan kakak adik Ratu Atut Chosiyah pasca Atut dan Wawan terkena kasus pidana korupsi.

Ini berbeda dengan posisi Tubagus Khaerul Jaman (adik tiri Tatu) yang juga menelan pil pahit pada Pilkada Kota Serang beberapa tahun lalu. Bobotnya akan berbeda ketika seseorang berhasil mengalahkan Tatu pada Pilkada Kabupaten Serang nanti.

Seseorang ini akan menjadi catatan sejarah dalam perjalanan politik keluarga besar Ratu Atut Chosiyah. Sebab, dalam histori politik di Banten Ratu Atut Chosiyah tak pernah terkalahkan. Maka wajar kalau kemudian seseorang yang berhasil mengalahkan Tatu Chasanah maka bobotnya sama dengan mengikuti dua kali pilkada.

Pertanyaan sekarang adalah siapakah orang yang akan melawan Tatu Chasanah pada Pilkada Kabupaten Serang 2020? Inilah sebenarnya yang dinanti oleh masyarakat luas. Jadi pada Pilkda Kabupaten Serang kali ini yang akan menjadi sorotan bukanlah Tatu Chasanah, melainkan orang yang melawan dia.

Sebagian akan menganggap orang yang melawan Tatu terlalu berani bahkan ada sebagian mengatakan nekad, karena melihat posisi Tatu sebagai incumbent dan trah dari Gen Hasan Sohib jelas tidaklah mudah,tetapi bukan berarti tidak mungkin dikalahkan.

Lobi - Lobi Koalisi Penantang
Melihat dinamika politik sekarang semakin dinamis dengan mendekatnya masa pendaftaran Bakal Calon Bupati Serang dari jalur partai politik. Ada pergerakan lobi dan komunikasi politik, tentu saja didalamnya ada deal- deal yang hanya orang tertentu yang tahu.

Ada nama Sopwan (Gerindra), Masrori (PAN) dan Najib Hamas (PKS). Kekuatan tiga partai ini kalau bergabung memang akan kokoh karena kursi di parlemen lebih dari cukup. PKS 5 kursi, PAN 4 kursi dan Gerindra 6 kursi. Kekuatan ini semakin kokoh manakalah Partai Demokrat, PKB dan Berakarya bergabung pasti akan berpengaruh besar dalam konteks perlawanan terhadap incumbent.

Kekuatan ini akan bergemuruh tatkalah spirit #AjeKendor digeser ke Kabupaten Serang. Kenapa saya sebutkan punya pengaruh, kendati tidak menjadi faktor utama? Pertama, Pilkada Kota Serang itu masih terngiang karena belum terlalu lama sehinggga memorinya masih terasa.

Kedua, pada saat Pilkada Kota Serang juga melibatkan banyak politisi Kabupaten Serang termasuk ketiga calon itu. Bahkan termasuk keterlibatan incumbent sendiri pada Pilkada Kota Serang beberapa tahun lalu.

Bahkan, sekarang hastag #WisWayaheAjeKendor mulai ramai menghiasi sosial media,terutama di beranda Masrori. Pada bagian lain, saya melihat demografis antara Kota Serang dan Kabupaten Serang juga tidak terlalu jauh perbedaanya. Sebab meskipun namanya kota, tetapi perubahan terutama dari sisi penyebaran ekonomi untuk menjadi sebuah kota tidak secepat kota  - kota lain seperti Kota Tangerang Selatan dan Kota Tangerang.

Jadi, ruh #WisWayaheAjeKendor yang pernah menjadi highlight Safrudin dan Subadri pada Pilkada Kota Serang beberapa tahun lalu masih bisa memiliki daya pantul, kendati tidak menjadi faktor utama. 

Namun jika dipakai sebagai pengingat memori bahwa keluarga besar Ratu Atut Chosiyah itu bisa dikalahkan akan menjadi daya tarik sendiri sekaligus energi bagi para penantang incumbent.

Yang harus dijaga rapat - rapat memang pada hal teknis selama proses mendapatkan rekomendasi dari DPP masing - masing. Sebab disini ada arena "permainan" yang menjadi rahasia umum yaitu soal finansial.

Penulis,
Karnoto






Percakapan Toleransi, Sajian Menu Basi

SumberFoto: Internet

Entah persisnya sejak kapan hari demi hari percakapan tema - tema toleransi dan NKRI semakin menguap. Dalam perspektif politik, sebagian orang menganalisa bahwa percakapan ini sengaja diletupkan ditengah kegagalan pemerintah menepati janji - janji politiknya. Janji menaikan perekonomian hingga 7 persen, janji tidak menaikan tarif dasar listrik dan rentetan janji - janji lainnya yang sampai sekarang tidak mampu ditunaikan.

Dalam bahasa sederhananya adalah isu percakapan toleransi dan NKRI sebagai upaya untuk mengalihkan isu kegagalan tersebut. Benar atau tidak tentang pendapat ini, Anda bisa merasakan sendiri dengan nurani Anda.

Saya sendiri punya pengalaman perihal toleransi, persisnya sejak masih sekolah di SLTA. Waktu itu dalam satu kelas ada seorang teman yang beragama Kristen dan tidak pernah ada masalah soal toleransi.

Ketika pelajaran Agama (Islam), teman saya diberikan kebebasan apakah mau mengikuti pelajaran atau ke kantin atau ke perpustakaan. Terkadang teman saya ikut pelajaran Agama (Islam) terkadang dia memilih keluar ruang kelas. Ga ada masalah tentang toleransi karena sepanjang setahun satu kelas dengannya tidak pernah ada pembahasan atau bully atau percakapan perihal Agama.

Pengalaman perihal toleransipun saya dapatkan ketika kuliah di Jakarta. Dalam satu ruang kelas kita bercampur dengan beragam Agama, ada yang Islam, Hindu dan Kristen dan kita tidak pernah ada masalah perihal toleransi.

Foto Pribadi:saya dan teman sekelas waku kuliah di Fak.Ilmu Komunikasi Jurusan Marketing Communication Advertising Univ.Mercu Buana, Jakarta. Mereka ada yang Kristen,Konghucu dan Islam. Kami saling menghargai dan tak pernah telribat percakapan soal toleransi dan Agama kita masing  - masing.

Bahkan, teman saya seorang non muslim selalu mengingatkan saya ketika waktu shalat tiba. "Sudah Adzan tuh, ga shalat dulu kamu," katanya kepada saya. Saya juga terlibat diskusi dengan teman yang beragama Hindu dan sama sekali tidak pernah ada percakapan yang berujung percikan api karena soal beda Agama dan keyakinan.

Dan saya pun tak pernah menyinggung soal keyakinan mereka, saya lebih tertarik untuk menyajikan menu menyehatkan dalam percakapan, seperti soal bisnis, peluang usaha dan percakapan - percakapan lain yang menyehatkan fikiran.

Pertanyaanya kenapa akhir - akhir ini percakapan toleransi seperti menjadi santapan yang sengaja disajikan oleh orang - orang tertentu padahal tahu kalau menu itu cukup sensitif sehingga potensial menimbulkan percikan api.

Apakah sengaja menu percakapan toleransi disajikan untuk menutupi menu lain yang sebenarnya lebih riil didepan mata? Lagi - lagi Andalah yang bisa menyimpulkan dengan nurani. Percakapan yang juga tak kalau hotnya adalah soal percakapan NKRI.

Ada sekelompok yang merasa diri paling NKRI dan menuding kelompok lain anti NKRI hanya karena penampilan fisik seperti bercadar, berhijab panjang,berjenggot dan celana cingkrang. Terus terang menurut saya ini konyol banget dan jelas sajian menu yang membosankan karena sudah basi.

Menu basi disajikan kembali dan tentu hasilnya membuat orang yang menikmati merasa eneg dan tidak menyehatkan. Siapapun warga Indonesia yang cinta dengan KeIndonesiaaan sudah pasti mecintai Indonesia, kecuali mereka yang memiliki cinta palsu, pura - pura bela NKRI padahal hanya ingin mendapatkan materi dari isu ini. Siapa mereka? Anda cerna sendiri dengan nurani.

Uniknya isu ini justru ramai dikalangan Muslim sendiri yang memiliki perbedaan mainstream dan gaya dakwahnya. Sementara pada hubungan dengan non Muslim justru tidak ada masalah, karena mereka yang non Muslim justru mengerti tentang makna toleransi dan mencintai NKRI.

Mereka menghargai peran umat Muslim yang besar di Indonesia, sebaliknya umat Muslimpun mengerti bahwa ada peran dari mereka yang beragama non Muslim. Sangat indah dan itulah yang jauh - jauh hari terjadi sebelum isu toleransi dan percakapan NKRI digoreng sedemikian rupa sampai menimbulkan percikan api.

Semoga percakapan - percakapan dikemudian hari kita memiliki kemajuan, tak sekadar menyantap isu toleransi tetapi mendapatkan menu baru yang fresh dan semua golongan bisa menikmati menu itu karena diyakini menyehatkan.

Menyehatkan fikiran dan akal serta menyehatkan hubungan sosial karena memang jauh - jauh hari hubungan itu tak pernah bermasalah oleh perbedaan Agama. Percakapan tentang toleransi sebenarnya sudah menjadi saling pengertian tetapi karena ulah sekelompok orang percakapan ini berbuah kebencian.

Jangan lagi santap percakapan itu karena itu menguntungkan mereka yang menyajikan demi materi, jangan taruh menu ini diatas meja makan karena ini membuat penyakit, penyakit akal dan fikiran serta hubungan sosial.

Dan kalau ada yang menawarkan menu sajian percakapan ini tolaklah mereka karena itu menjadi pelajaran bagi mereka. Semoga kita mendapatkan menu percakapan yang mengasyikan, menyegarkan dan menyehatkan.

Salam,
Karnoto






Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com