Welcome!

Karnoto Adalah Konsultan Brand Penulis

CatatanHarian Kontak








About Me

Download
PROFIL | KARNOTO
Beli Sekarang
BUKU | BRAND
Jelajahi
USAHA | KARNOTO
Tentang Saya

Karnoto

Owner Maharti Networking

Penulis Buku Brand, Lahir di Brebes, Jawa Tengah pada 02 Mei 1980. Mantan Jurnalis Radar Banten (Jwa Pos Group), Mantan Jurnalis Warta Ekonomi Jakarta.

Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Universitas Mercu Buana, Jakarta. Sekarang menjadi Owner Maharti Networking sebuah usaha yang bergerak disejumlah bidang yaitu Media, Konsultan Brand, Jasa Pembuatan Website danToko Online .

Bisnis

Maharti Brand
Kunjungi Website Disini

Maharti Brand adalah lembaga konsultan brand yang melayani jasa branding, pembuatan website dan toko online dll

Maharti Citra Media
Kunjungi Website Disini

Maharti Citra Media bergerak dibidang media onlien, digital dan cetak ada dua media yaitu BantenPerspektif dan BisnisKita

Maharti BookStore
Order Klik Disini

Maharti BookStore adalah Toko Buku Online yang menjual berbagai macam buku mulai dari Buku Parenting, Biografi,Islami

Maharti Publishing
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Publishing bergerak dibidang penerbitan buku mulai dari desain buku, penulisan, editing dan percetakan buku

Maharti Food
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Food bergerak dibidang makanan dan minuman dengan konsentrasi pada produk UMKM yang jadi khas Indonesia

Maharti Eksotis
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Eksotis bergerak dibidang pariwisata dengan produk utama yaitu Wisata Kampung di Kabupaten Brebes

Maharti Land
Informasi Detail Klik Disini

Maharti Land bergerak dibidang properti dengan konsentrasi sebagai broker atau agensi properti, ruko, kios dan tanah

Maharti School
Informasi Detail Klik Disini

Maharti School adalah sekolah digital yang mengajarkan Digital Marketing, Web Desain, Desain Grafis dan Jurnalistik

Catatan

close

Percakapan Toleransi, Sajian Menu Basi

SumberFoto: Internet

Entah persisnya sejak kapan hari demi hari percakapan tema - tema toleransi dan NKRI semakin menguap. Dalam perspektif politik, sebagian orang menganalisa bahwa percakapan ini sengaja diletupkan ditengah kegagalan pemerintah menepati janji - janji politiknya. Janji menaikan perekonomian hingga 7 persen, janji tidak menaikan tarif dasar listrik dan rentetan janji - janji lainnya yang sampai sekarang tidak mampu ditunaikan.

Dalam bahasa sederhananya adalah isu percakapan toleransi dan NKRI sebagai upaya untuk mengalihkan isu kegagalan tersebut. Benar atau tidak tentang pendapat ini, Anda bisa merasakan sendiri dengan nurani Anda.

Saya sendiri punya pengalaman perihal toleransi, persisnya sejak masih sekolah di SLTA. Waktu itu dalam satu kelas ada seorang teman yang beragama Kristen dan tidak pernah ada masalah soal toleransi.

Ketika pelajaran Agama (Islam), teman saya diberikan kebebasan apakah mau mengikuti pelajaran atau ke kantin atau ke perpustakaan. Terkadang teman saya ikut pelajaran Agama (Islam) terkadang dia memilih keluar ruang kelas. Ga ada masalah tentang toleransi karena sepanjang setahun satu kelas dengannya tidak pernah ada pembahasan atau bully atau percakapan perihal Agama.

Pengalaman perihal toleransipun saya dapatkan ketika kuliah di Jakarta. Dalam satu ruang kelas kita bercampur dengan beragam Agama, ada yang Islam, Hindu dan Kristen dan kita tidak pernah ada masalah perihal toleransi.

Foto Pribadi:saya dan teman sekelas waku kuliah di Fak.Ilmu Komunikasi Jurusan Marketing Communication Advertising Univ.Mercu Buana, Jakarta. Mereka ada yang Kristen,Konghucu dan Islam. Kami saling menghargai dan tak pernah telribat percakapan soal toleransi dan Agama kita masing  - masing.

Bahkan, teman saya seorang non muslim selalu mengingatkan saya ketika waktu shalat tiba. "Sudah Adzan tuh, ga shalat dulu kamu," katanya kepada saya. Saya juga terlibat diskusi dengan teman yang beragama Hindu dan sama sekali tidak pernah ada percakapan yang berujung percikan api karena soal beda Agama dan keyakinan.

Dan saya pun tak pernah menyinggung soal keyakinan mereka, saya lebih tertarik untuk menyajikan menu menyehatkan dalam percakapan, seperti soal bisnis, peluang usaha dan percakapan - percakapan lain yang menyehatkan fikiran.

Pertanyaanya kenapa akhir - akhir ini percakapan toleransi seperti menjadi santapan yang sengaja disajikan oleh orang - orang tertentu padahal tahu kalau menu itu cukup sensitif sehingga potensial menimbulkan percikan api.

Apakah sengaja menu percakapan toleransi disajikan untuk menutupi menu lain yang sebenarnya lebih riil didepan mata? Lagi - lagi Andalah yang bisa menyimpulkan dengan nurani. Percakapan yang juga tak kalau hotnya adalah soal percakapan NKRI.

Ada sekelompok yang merasa diri paling NKRI dan menuding kelompok lain anti NKRI hanya karena penampilan fisik seperti bercadar, berhijab panjang,berjenggot dan celana cingkrang. Terus terang menurut saya ini konyol banget dan jelas sajian menu yang membosankan karena sudah basi.

Menu basi disajikan kembali dan tentu hasilnya membuat orang yang menikmati merasa eneg dan tidak menyehatkan. Siapapun warga Indonesia yang cinta dengan KeIndonesiaaan sudah pasti mecintai Indonesia, kecuali mereka yang memiliki cinta palsu, pura - pura bela NKRI padahal hanya ingin mendapatkan materi dari isu ini. Siapa mereka? Anda cerna sendiri dengan nurani.

Uniknya isu ini justru ramai dikalangan Muslim sendiri yang memiliki perbedaan mainstream dan gaya dakwahnya. Sementara pada hubungan dengan non Muslim justru tidak ada masalah, karena mereka yang non Muslim justru mengerti tentang makna toleransi dan mencintai NKRI.

Mereka menghargai peran umat Muslim yang besar di Indonesia, sebaliknya umat Muslimpun mengerti bahwa ada peran dari mereka yang beragama non Muslim. Sangat indah dan itulah yang jauh - jauh hari terjadi sebelum isu toleransi dan percakapan NKRI digoreng sedemikian rupa sampai menimbulkan percikan api.

Semoga percakapan - percakapan dikemudian hari kita memiliki kemajuan, tak sekadar menyantap isu toleransi tetapi mendapatkan menu baru yang fresh dan semua golongan bisa menikmati menu itu karena diyakini menyehatkan.

Menyehatkan fikiran dan akal serta menyehatkan hubungan sosial karena memang jauh - jauh hari hubungan itu tak pernah bermasalah oleh perbedaan Agama. Percakapan tentang toleransi sebenarnya sudah menjadi saling pengertian tetapi karena ulah sekelompok orang percakapan ini berbuah kebencian.

Jangan lagi santap percakapan itu karena itu menguntungkan mereka yang menyajikan demi materi, jangan taruh menu ini diatas meja makan karena ini membuat penyakit, penyakit akal dan fikiran serta hubungan sosial.

Dan kalau ada yang menawarkan menu sajian percakapan ini tolaklah mereka karena itu menjadi pelajaran bagi mereka. Semoga kita mendapatkan menu percakapan yang mengasyikan, menyegarkan dan menyehatkan.

Salam,
Karnoto








Foto Tak Berkata, Tapi Punya Makna

SumberFoto: Group FB.KFI

Sekira sebulan ini saya aktif dikomunitas fotography Indonesia dan disini saya banyak belajar tentang dunia fotography, mulai dari pengambilan angle, mengatur setting kamera sampai permainan warna latarbelakang. Meski bukan dunia baru bagi saya, tetapi banyak ilmu baru yang saya dapatkan di komunitas yang anggotanya dari seluruh Indonesia.

Misal sebuah foto model pengantin yang diunggah dari salah seorang anggota Komunitas Fotography Indonesia di group sosial media. Saya mendapatkan foto - foto ekspresif dan sarat dengan makna. Kalau dulu saya cuma sekadar mengenal foto pengantin an sih, tetapi di komunitas ini saya mendapatkan inspirasi tentang bagaimana angle seorang pengantin dengan balutan bermacam - macam pakaian.

Ada pula anggota KFI yang mengupload foto model dengan berbagai macam angel dan tentu dengan sensitifinya masing - masing fotographer. Ada yang model maaf dadanya terbuka sampai terlihat, ada yang menggunakan model seorang wanita berhijab dan adapula menggunakan model dadakan, seperti orangtua yang sedang menggendong anak dan lain sebagainya.

Intisarai dari semua foto dan ekspresi masing - masing adalah bahwa foto itu memang tak berkata, tetapi ia punya makna. Kalau dalam jurnalistik, foto sendiri sebenarnya sebuah berita hanya bentuknya yang berbeda. Jika jurnalis biasanya menulis maka seorang jurnalis foto beritanya adalah foto itu sendiri.

Dalam foto sesungguhnya ada pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak, apakah itu pesan kebencian, kejenuhan, kemarahan, prihatin dan emosi - emosi lainnya. Oleh karena foto membawa pesan dan artinya punya makna didalamnya maka sejatinya angle atau sudut pandang menjadi sebuah keniscayaan bagi seorang pemotret selain skill teknis yang juga harus dimiliki.

Dulu, saat saya masih menjadi jurnalis di media mainstream dan mengikuti pelatihan, ada seorang narasumber yang mengungkapkan kedahsyatan foto. Saya lupa nama narasumbernya ketika itu, tetapi pesan yang ia sampaikan adalah bahwa foto memiliki makna dalam.

Ia ceritakan ada sebuah foto di negeri yang krisis kelaparan dan dalam foto itu ada seekor burung Gagak dengan posisi didepannya seorang anak kecil yang kurus dan telrihat tulang - tulangnya. Foto ini memiliki makna sangat dalam karena menggambarkan betapa memprihatinkannya kondisi di negara tersebut.

Anda bayangkan, burung Gagak itu pemakan bangkai dan dalam foto itu burung tersebut tepat berada di depan anak yang kelaparan sehingga tulangnya sangat terlihat jelas. Foto ini menggambarkan seolah - olah sang burung Gagak siap memangsa sebuah bangkai karena saking memprihatinnya kondisi si anak tadi.

Sumber: Internet

Foto ini disebut - sebut sebagai foto terbaik didunia dan sang fotopragher yaitu Kevi Carter mendapatkan penghargaan. Foto ini diambil pada Maret 1993 di Desa Ayod, Sudan. Gambar terkenal ini diambil oleh jurnalis foto asal Afrika Selatan, Kevin Carter, saat dia ditugaskan untuk meliput bencana kelaparan hebat di negara Sudan. Beberapa bulan kemudian sang fotografer mencabut nyawanya sendiri karena depresi atas apa yang telah dilihatnya.

Dan tentu masih banyak lagi foto - foto fenomenal yang sarat dengan makna. Jadi, intinya foto itu memang tak bisa bicara, tetapi foto punya makna. Dengan makna dan pesan itulah sebuah foto bisa menggugah, membuat marah, membuat prihatin dan emosi - emosi lainnya.

Salam,
Karnoto








Peran Humas Dalam Gerakan Dakwah



Dalam sebuah momentum fenomenal beberapa abad silam, yaitu menjelang Fathu Mekah atau Pembebasan Kota Mekah disana terlihat jelas peran public relation yang sangat berarti melumpuhkan lawan tanpa melalui perang.

Dalam buku The Arabic History dan The Great Story Nabi Muhammad digambarkan bagaimana Rasulullah SAW memainkan public relation untuk membangun opini publik terhadap kaum kafir yang berada di Kota Mekah.

Opini Pertama adalah berkemah di suatu titik dimana pasukan Rasulullah SAW terlihat jelas dari Kota Mekah. Ini untuk membentuk perspektif terhadap kaum kafir bahwa pasukan Muslim sudah cukup kuat. Saat itu itu pasukan yang dibawa menembus 10 ribu lebih dan jelas akan terlihat besar ketika berkemah disuatu titik yang tampak jelas dari Kota Mekah.Tujuannya tak lain menekan psikis lawan.

Opini Kedua, Rasulullah dan ribuan Muslim sengaja membuat obor saat kemah malam hari. Obor ini pun terlihat jelas dari Kota Mekah dan menunjukan bahwa memang pasukan yang dibawa cukup besar.

Opini Ketiga, saat perjalanan ke Kota Mekah pasukan Muslim terbagi dari empat sudut arah, dimana sudut itu ditentukan berdasarakan titik strategis yang menjadi lokasi paling ramai dilalui penduduk Mekah. Strategi ini untuk membangun perspektif terhadap orang kafir di Mekah sehingga kemanapun mereka melihat maka disana terdapat pasukan Muslim.

Opini Kelima, menghentakan kaki saat melangkah. Anda bisa bayangkan ribuan pasukan jalan secara bersamaan lalu kaki dihentakan dengan keras. Suaranya pasti akan terdengar nyaring dan bergemuruh sehingga menyiutkan nyali orang kafir di Mekah.

Opini Keenam, mengutus seorang sahabat untuk woro - woro kepada penduduk Mekah bahwa Rasulullah SAW telah datang membawa pasukan yang cukup besar. Sahabat ini sengaja diutus untuk menghebohkan penduduk Kota Mekah agar mereka panik sebelum Rasulullah SAW dan pasukannya tiba di Mekah.

Dan opini pamungkasnya dilakukan oleh Rasulullah SAW sendiri yaitu dengan sebuah statement cukup mengaggettan penduduk Mekah dan statement inilah yang menjadi ending dari strategi public relation dalam konteks Fathu Mekah.

Konten komunikasi publik yang dilakukan Rasulullah SAW mencengangkan dan membuat kagum dunia. Ia katakan "Tak ada penumpahan dari di Mekah, siapa yang berkumpul di Ka'bah maka dia selamat. Dan tak ada penjarahan atau rampasan terhadap harta penduduk Kota Mekah. Tak ada anak - anak dan perempuan yang tersakiti"

Konten inilah yang membuat haru biru penduduk Kota Mekah sehingga mereka berbondong - bondong ke Kaabah dan mencari keselamatan. Sebuah gambaran bagaimana Rasulullah SAW mengerti betul peran public relation dalam sebuah pergerakan.

Akibat peran Kehumasan yang cerdik, psikis orang kafir sudah tertekan sehingga pasukan Muslim menang tanpa melalui peperangan. Apa yang dilakukan Rasulullah SAW dalam konteks Kehumasan pada zaman kerajaan juga ditiru.

Hampir setiap kerjaaan membangun benteng tinggi dan ada pula raja yang membuat kolam buaya sebelum memasuki ruangan khusus sang Raja. Belum ditambah prajurit khusus yang menjaganya. Tujuannya tak lain adalah menekan psikis lawan. Dan ini pula yang dilakukan Nabi Sulaiman saat menjatuhkan psikis Ratu Balkis dengan membuat lantai tembus pandang.

Belakangan teori - teori tentang public relation diadopsi dalam ruang akademik yang kemudian kita sebut dengan nama Public Relation. Bahkan sekarang berkembang dalam teori Komunikasi Pemasaran Advertising yang membawahi public relation.

Dan konsep inilah yang sekarang dipakai oleh semua lembaga, mulai dari pemerintahan, lembaga sosisal, pendidikan apalagi lembaga politik.

Sebagus apapun event yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi tidak akan mampu menembus masyarakat luas jika tidak ada peran public relation. Dan sebenarnya peran PR bukan hanya mempublish sebuah event tetapi lebih jauh dari itu adalah bagaimana membuat konsep dan mengeksekusi opini publik sampai hal teknis.

Sebab kerja humas bukanlah sekadar memanggil media untuk meliput acara, tetapi bagaimana menganalisa isu, membuat konsep dan mengeksekusi konsep yang telah ditentukan.Dalam perkembangannya teori PR dipakai semua organisasi, baik politik, bisnis, sosial termasuk lembaga keagamaan. Hanya saja ada perbedaan antara mengelola PR pada lembaga politik, lembaga sosial dan lembaga pemerintahan. Memang secara substani sama, tetapi akan tampak terlihat jelas perbedaanya pada sisi konten yang disampaikan.

Disinilah seorang PR harus mengerti tentang teori - teori komunikasi publik, teori komunikasi pemasaran, advertising, komunikasi visual, mengelola event dan media planning sehingga tak sekadar terpublikasi tetapi pesan yang ingin kita sampaikan bisa didilevery sesuai target yang kita tetapkan.








Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com