close

Februari 28, 2016

Antara Kapasitas dan “Isi Tas”, Siapa Menang?
Pemasaran tradisional memandang bahwa perusahaan membuat sesuatu dan kemudian menjualnya. --Philip Kotler—
Perubahan sosial menurut Soerjono Soekanto terjadi karena  faktor adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap sesuatu yang ada atau perubahan itu terjadi karena ada sesuatu yang lebih memuaskan dibandingkan yang ada saat ini. Saya ingin mengkorelasikan antara tinjauan sosiologi yang diungkapkan oleh Soerjono dengan komunikasi pemasaran yang dikaji oleh pakar pemasaran dunia Philip Kotler, dimana ada titik singgung antara keduanya dan bisa dijadikan tools kita untuk menguatkan brand.
Meskipun Kotler tidak membahas mengenai pemasaran politik tapi secara substansi teori pemasaran komersial bisa diadopsi ke dalam politik. Teori marketing inilah yang menginspirasi sejumlah akademisi menulis buku tentang marketing politik. Beberapa buku marketing yang kontennya politik diantaranya,  buku Marketing Politik yang ditulis Firmanzah atau buku Iklan Politik yang ditulis Akhmad Danial termasuk saya sendiri tertarik untuk menulis konten ini. 
Alasannya, pertama selama kurang lebih lima tahun saya menjadi wartawan sedikit banyak tahu tentang dramatisasi politik, games politik dan bagaimana mereka melakukan tawar menawar kekuatan. Kedua, saya sendiri ingin berbagi apa yang pernah didapatkan selama  belajar tentang Marketing Communication Advertising di kampus. 
Pada hampir setiap perhelatan politik, baik pemilihan calon anggota DPRD, kepala daerah hingga presiden, para calon menginginkan bisa memenangkan medan pertempuran politik. Namun sayangnya, masih ada yang menggunakan cara-cara tradisional sehingga tidak seimbang antara dana yang dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan. 
Salah satu penyebabnya adalah calon dan timnya sendiri tidak mengerti bagaimana memasarkan sebuah produk dalam hal ini calon. Akhirnya cara-cara tradisional pun terpaksa dilakukan meskipun mereka sejak awal sudah “menyerah” sebelum berperang karena cara pandangnya hanya urusan logistik. 
Kalau ingin menang maka duitnya juga harus buanyak. Padahal, fakta di lapangan tidak sepenuhnya calon yang logistiknya besar berhasil memenangkan pertempuran. Inilah yang disindir Kotler dalam salah satu pembahasan bukunya berjudul Manajemen Pemasaran. Dalam buku itu, Kotler mengatakan bahwa pemasaran tradisional memandang bahwa perusahaan membuat sesuatu dan kemudian menjualnya. 
Menurut Kotler, pandangan tradisional seperti itu tidak akan berhasil karena konsumen dihadapkan dengan banyak pilihan. Meski yang diungkapkan Kotler adalah produk komersial, tetapi sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan produk politik. 
Salah satunya adalah mengenai perilaku pemilih, dimana pemilih setiap tahun mengalami perubahan seiring dengan proses pendidikan politik yang dilakukan beberapa elemen, mulai dari media, lembaga swadaya masyarakat (LSM), mahasiswa dan partai politik itu sendiri. Hasilnya, masyarakat mulai cerdas dalam memilih pemimpin dan fakta di lapangan di beberapa daerah membuktikan keberhasilan pendidikan politik meskipun belum sempurna.

Perilaku pemilih bukan saja cerdas tapi mereka sudah berani mengatakan ketidaksetujuannya dengan calon yang dianggap tidak memuaskan. Banyak politisi yang gagal mencalonkan untuk kedua kalinya karena masyarakat menganggap gagal ketika orang tersebut duduk di parlemen. Inilah salah satu perubahan sosial dan perilaku politik yang berani dan terjadi saat ini di dalam masyarakat.
Dalam perkembangannya, perilaku pemilih sekarang adalah sudah segmentatif dan mereka memiliki pengalaman, persepsi, keinginan, kebutuhan dan kriteria sendiri dalam memilih seseorang. Dan hal itu tidak selalu duit, tapi bisa jadi faktor nilai yang ada pada diri calon itu sendiri. Perubahan ini harus menjadi tools para politisi dan partai politik sehingga proses marketing politik bisa sesuai dengan target yang diinginkan. 
Jadi ada nilai yang didapatkan oleh masyarakat dari politisi atau parpol itu sendiri, inilah yang disebut Kotler  penghantaran nilai (value delivery). Kotler membagi tiga tahap proses value delivery ini, fase pertama adalah memilih nilai dan ini bisa dilakukan dengan cara STP (segmentasi, targeting dan positioning). 
Fase kedua yaitu menyediakan nilai, artinya politisi atau parpol harus mulai menentukan fashion, tim sukses dan menyiapkan konten untuk alat promosi. Dan terakhir adalah mengkomunikasi nilai, dimana politisi  atau parpol melakukan promosi sebagai alat penyampaian pesan yang bersi nilai (visi dan misi) yang tentu berbeda dengan calon lain. Dalam teori periklanan, ada yang disebut dengan promotion mix yaitu bauran promosi terdiri dari advertising, press release, personal selling, direct selling, event. Inilah tahap terakhir yang harus dilakukan para politisi untuk agar pesan bisa sampai kepada calon pemilih.
Salah satu bauran promosi adalah Iklan. Iklan seorang calon harus disesuaikan dengan target pasar yang hendak dibidik. Contoh, Dapil kita mayortas di perdesaan maka cara yang paling efektif adalah melakukan event dalam bentuk bakti sosial, kegiatan keagamaan dan visinyapun harus mengenai pertanian. Event ini juga bisa dikompilasi dengan atributisasi melalui banner dan spanduk dengan isi pesan yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat, sehingga mendapat respon positif. 
 
Penulis: Karnoto
# Chief in Editor Banten Perspektif

# studi MarComm Advertising di Univ. Mercu Buana, Jakarta 








Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com