close

Februari 28, 2016

Makna Dibalik Warna

Saya tergelitik menulis tentang warna produk bermula ketika mengetahui beberapa merek rokok ternyata diambil dari warna. Sebut saja Djarum Cokelat, Sampoerna Hijau, Djarum Black atau Gudang Garam Merah. Dari sinilah saya menjadi penasaran apa sesungguhnya makna warna untuk produk, karena ternyata tidak hanya rokok yang ngurusi warna terkait produk.

Hampir seluruh restoran cepat saji seperti CFC, Hoka-hoka Bento, KFC, memiliki karakter warna yang sama yaitu orange dan merah. Atau kenapa pada produk yang segmentasinya anak-anak produsen menggunakan warna primer atau cerah. Kenapa mereka pilih warna?, apa keistimewaan warna daripada brand lainnya? Dan segudang pertanyaan saya simpan rapat-rapat di kotak pikiran.

Saya pun langsung memburu informasi dan buku tentang warna produk. Beberapa referensi pun saya cari mulai dari bertanya pada designer hingga melihat permainan warna. Bagi Anda yang belum tahu, warna masuk pada pembahasan tentang psikologi konsumen. Bagi para design grafis, penguasaan terhadap karakter warna juga menjadi hal yang fardu’ain.
Beberapa riset tentang warna memiliki pesan bagi para pebisnis untuk tidak meremehkan urusan warna. 

Hasil riset yang dikutip oleh Paulus Lilik Kristianto dalam bukunya Psikologi Pemasaran, menerangkan bahwa 90 detik pada pandangan awal seseorang terhadap produk dan lingkungan adalah pada warna. Warna menurut Lilik, meningkatkan pengenalan terhadap suatu merek hingga 80%. Waow, cukup serius juga nih urusan warna. Jujur ini menjadi referensi berharga bagi saya sebagai pelaku usaha rumah makan. Semula urusan warna tidak menjadi bagian penting saya ketika memindahkan tempat Gardoe Welitan, rumah makan yang saya rintis.


Iklan berwarna dibaca 43% lebih sering daripada iklan yang sama dengan format hitam putih. Riset lainya yang dikutip Lilik adalah bahwa 90% merasa bahwa warna dapat membantu menarik pelanggan baru. Sedangkan kaitan warna dengan selera konsumen, Lilik mengutarakan bahwa warna menunjukan salah satu dari kebutuhan neurologi dasar untuk stimulasi.

Oooo, benar kata orang bijak tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat karena terbukti soal urusan warna saja kita bisa berBAB-BAB. Mulai dari karakter warna, pencampuran warna dan sampai hubungan warna dengan kesuksesan bisnis seseorang semua bisa dipelajari.
Saya sendiri tahu beberapa pencampuran warna dari film permainan warna yang suka ditonton anak saya. Semula sih tidak terlalu menarik karean saya pikir itu hanya film ana-anak, tapi ternyata film itu cukup ilmiah karena mengenalkan hasil pencampuran warna dan itu ilmiah loh.

Saya sebutkan beberapa contoh percampuran warna yang dikuti dari film permainan anak-anak itu. Warna biru dicampur dengan kuning akan menghasilkan hijau, sedangkan kuning dicampur merah menghasilkan warna orange. Apabila kita ingin warna ungu maka cukup mencampurkan warna merah dan biru, sedangkan percampuran merah-biru-kuning menghasilkan warna cokelat.

Warna di sejumlah negara juga memiliki makna yang berbeda-beda. Di Indonesia misalnya, merah disimbolkan sebagai pemberani dan putih adalah kesucian. Namun di Amerika Utara, merah justru diartikan memiliki rangsangan, seks, hasrat dan kecepatan. Putih bagi kebudayaan China dilambangkan pada kematian. Sementara di Brazil warna kematiannya justru ungu (Sumber Psikologi Pemasaran).

Asumsi saya, mungkin alasan inilah kenapa warna masuk dalam pembahasan teori psikologi pemasaran ataupun psikologi konsumen. Alasannya sederhana karena dari pemahaman warna inilah kita bisa menentukan warna yang tepat sesuai dengan produk dan segmentasi pasar yang kita targetkan. Nah, untuk kasus warna yang menjadi merek rokok sampai saya menulis ini belum mendapatkan referensi. Yang saya tahu dari buku Advertising That Sells, rokok Djarum 76 dan Coklat saat ini sedang menggeser imaje posisinya dari rokok JADUL atau rokok generasi 80-an menjadi rokok generasi muda dan sekarang.

Tak heran Djarum 76 dan Coklat membuat iklan yang cukup menyegarkan dengan menggandeng beberapa group ban papan atas seperti Gigi dan Padi. Konon untuk mengubah citra ini Djarum harus merogoh dana miliaran rupiah. Sayang di buku karangan Dyah Hasto Palupi, wartawan majalah ekonomi dan bisnis SWA itu tidak diterangkan makna warna cokelat, karena memang fokus pembahasan bukuny bukan soal warna melainkan kesuskesan sebuah biro periklanan








Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com