close

Februari 28, 2016

Membangun Identitas Diri

Mata Anda sering “dipaksa” untuk menoleh ke sebuah billboard. Tanpa sadar, mata seperti ditarik untuk melihat gambar yang unik dan tak terduga. 
(Rakhmat Supriyono, Desain Komunikasi Visual)


Dunia periklanan saat ini makin atraktif. Sejak kita bangun tidur, mandi, di kendaraan umum, di jalan tol, di tempat kerja, layar televisi termasuk tiang listrik, menjadi ”korban” atraktif periklanan. Tulisan kali ini saya tidak akan membahas tentang urgensi iklan atau manajemen periklanan.

Namun saya ingin menyampaikan bahwa setiap produk memiliki identitas. Identitas atau merek bukan hanya sekadar membedakan dengan pesaing, tapi identitas menjadi represntase sebuah produk.

Lihat identitas A Mild yang iklannya kreatif. Atau sampoerna hijau yang sukanya rame-rame. Semua itu identitas yang penting dalam sebuah marketing. Nah, untuk menjual diri pun kita harus memiliki identitas yang kuat. Persaingan rokok begitu hebat, sehingga membutuhkan sebuah identitas yang berkarakter.

Identitas atau merek secara definisi tidak perlu saya jelaskan lagi, karena sudah ada pada tulisan terdahulu. Pentingnya sebuah merek hingga urusan ini membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Ini yang dialami pada merek larutan cap kaki tiga, dimana dua perusahaan saling klaim sebagai pihak yang paling berhak untuk menggunakan merek tersebut.


Perang klarifikasi di media pun mencuat, seperti yang pernah dimuat di Kompas 12 Agustus, yang memuat sanggahan PT Sinde Budi Sentosa atas klaim penggunaan merek cap kaki tiga dengan karakter badak bercula oleh PT Wen Ken Drug asal Singapura.

Begitu mahalnya identitas sebuah produk. Diri kita pun harus memiliki identitas agar menjadi mahal harganya. Identitas diri kita itu bisa berupa kaya gagasan, ahli motivator, penulis, ahli pemasaran, ahli komunikasi atau pun politisi.

Philip Kotler dalam bukunya Manajemen Pemasaran memberikan enam kriteria utama perihal merek. Keenam kriteria itu yaitu dapat diingat, berarti, dan dapat disukai. Ketiga kriteria ini disebut dengan pembangunan merek, sedangkan tiga kriteria lainnya yaitu dapat ditransfer, dapat disesuaikan dan dapat dilindungi merupakan kriteria defensif.

Anda ingat Mario Teguh dengan Golden Ways yang sering tayang di Metrotv?, atau Anda ingat Kuis Siapa Dia?, terakhir anda ingat tagline Hidup Adalah Perbuatannya Soetrisno Bachir? Semua itu adalah identitas personal yang mereka bangun dan secara tidak sadar merasuki dalam pikiran kita. Identitas atau merek menurut Philip Kotler, merupakan aset tak berwujud yang berharga dan harus dikelola dengan seksama. Dari apa yang dikatakan Philip, jelas bahwa identitas personal kita merupakan aset yang tak berwujud tapi mahal harganya.


Sekali lagi, penulis ingin menyampaikan bahwa identias dalam konteks personal bisa berupa reputasi, gagasan atau ide. Nah, kalau reputasi yang merupakan identitas personal kita hancur di mata publik maka tamatlah riwayat diri kita. Kalau dalam konteks produk, andaikan produk kita ternyata tidak halal dan bercampur lemak babi maka sebagian umat muslim tidak akan membeli dan membenci yang akan berujung pada merosotnya nilai penjualan bahkan bangkrut.








Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com