close

Februari 28, 2016

Pos Ronda dan Hardiknas

“Hati-hati kalau mau jalan ke sana. Soalnya gelap dan kalau jam malam sudah jarang orang melintas,” nasehat seorang wanita paruh baya saat mengetahui saya hendak menuju ke lokasi perbukitan di Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Waktu itu jam 8 malam dan karena daerah perbukitan jadi tidak segemerlap Kota Serang yang mulai tumbuh pusat-pusat perbelanjaan. 

Saat saya mau meninggalkan Kota Serang tampak kota ini sedang berbenah dan mulai didatangi investor khususnya property dan ritel. Terakhir sedang dibangun Mall of Serang yang lokasinya persis di pertigaan pintu keluar Tol Serang Timur. Sebelumnya telah berdiri dengan gagah Hypermart dan Ramayana, hanya sekira 5 menit dari dari Mall of Serang.

Esok hari tanggal 2 Mei, itu artinya ada event nasional yang biasanya ramai yaitu peringatan Hari Pendidikan Nasional. Sebagai perusahaan media, Radar Banten tentu tidak ingin ketinggalan momentum Hardiknas. Apesnya, saya yang ditugaskan untuk membuat feature tentang sejumlah siswa di Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang. Sebetulnya liputan siswa sekolah dasar di daerah ini sudah pernah saya liput setahun lalu, tapi Pemimpin Redaksi (Pemred) waktu itu Mashudi tetap mengutus saya berangkat ke lokasi tersebut. 

Entah karena tidak ada ide lagi atau lagi males mikir. Waktu itu  hari sudah malam, beberapa wartawan juga sudah balik ke rumah dan ke kontrakan. Saya sendiri semula sudah ancang-ancang mau kabur ke rumah, bercengkrama dengan kedua malaikat yang sudah lucu-lucu. “To berangkat sama fotograper ke Mancak. Ambil momen siswa yang berangkatnya pagi-pagi untuk box Hardiknas,” kata Mashudi kepada saya yang baru saja kelar mengetik berita.

Tanpa daya upaya menolak akhirnya saya berangkat bersama fotograper ke lokasi sekira pukul 8 malam. Lelah, tidak konsenstrasi dan letih sedikit demi sedikit tersapu angin setelah melihat semangat sang fotograper. Saya kagum dengan hasil jepretan fotograper ini karena gambar yang diambil menurut saya memiliki karakter kuat. 

Wajar kalau dia pernah menjuarai lomba fotograpi tingkat nasional yang diselenggarakan salah satu stasiun televisi swasta tanah air. Jarak lokasi tujuan dari kantor bisa ditempuh kurang lebih 1,5 jam dengan kendaraan roda dua. Selama dalam perjalanan hati kecil saya ngrundel karena menurutku apa yang mau saya liput sudah pernah naik cetak dan belum ada perubahan, karena beberapa hari sebelumnya saya menengok ke lokasi. Itu artinya ada berita yang sama ditulis dua kali.

“Kalau bukan perintah dari Bos mah saya ga mau liputan ini lagi, soalnya sudah pernah,” kata saya di perjalanan. Akhirnya daripada nggrundel bikin hati tidak seratus persen, akhirnya saya positif thingking saja. “Mungkin ini ujian loyalitas saya kepada perusahaan,” hibur saya dalam batin. Maklum, Pemred Radar Banten selalu mengatakan loyalitas dalam setiap rapat atau kegiatan lainnya. 

Udara dingin mulai merasuk dalam diri, tas rangsel yang sengaja untuk penadah anti angin seperti tak mampu lagi menahan desakan angin. Suara lolongan anjing pun mulai terdengar nyaring, sepi dan gelap gulita. Saya menengok jam tangan merek Casio yang saya beli dari pusat perbelanjaan Royal, Kota Serang. Jam tangan itu saya beli  dari setengah gaji pada bulan itu yaitu Rp 350 ribu.

“Gelap banget ya,” kata sang fotograper kepada saya. Parahnya saya sendiri mendadak lupa arah jalan menuju bukit dimana beberapa siswa SD terpaksa harus berangkat subuh-subuh, mengingat jarak dari rumah ke sekolah mencapai lima kilometer dan harus ditempuh dengan jalan kaki. “Tuh ada orang, coba kita tanya arah jalannya,” kata saya kepada sang fotograper. 

Alhamdulillah, jalanpun kita temukan sampai pada pertigaan jalan dimana ada pos ronda berdiri. Pos ronda itu persis di samping masjid perkampungan. Pos ronda di tempat ini jangan Anda bayangkan seperti Pos Satpam di Mall atau di perkantoran. Pos ronda ini terbuat dari bambu dan lempengan kayu, di pojok terdapat kentungan. 

Apa yang pernah saya lihat di film-film tentang kentungan ternyata masih ada meskipun sudah merdeka 60 tahun. Beberapa saat kami berdua sempat ngobrol dengan warga setempat sebelum akhirnya mereka masuk ke rumah masing-masing. “Dih kejem bener nih orang, masa kami ditinggal berdua di pos ronda. Mana ga ditawarin nginep di rumah lagi,” gumam saya dalam batin. 

Karena tidak ada pilihan lain akhirnya sayapun menginap di Pos Ronda. Waktu terus berjalan, sesekali saya menengok jam tangan. “Ya Allah sudah jam 3 pagi. Apa yah yang saya cari. Apa begini jadi wartawan, perasaan teman-temanku ga segini amat ya?” gumam saya lagi merenungi nasib menjadi kuli tinta. Mungkin ini mengapa wartawan disebut kuli tinta. “Ah, ga tahunya saya jadi kuli ya?” pertanyaan demi pertanyaan terus berkecamuk dalam batin saya sampai terdengar suara adzan subuh.

Berbeda dengan kondisi sang fotograper yang tampak menikmati penginapan “super mewah” itu. Pulas dan seperti tidak tertekan, tampak menikmati laiknya tidur di Hotel Marbella, Anyer, hotel paling mewah di kawasan pantai Anyer. Di bawah kolong Pos Ronda ternyata ikut menginap pula seekor anjing. 


Binatang ini seperti ingin menemani kami berdua dan tidak bikin usil hingga fajar menjelang. Usai shalat Subuh saya langsung membangunkan sang fotograper yang masih terlelap tidur dengan mimpi indahnya. “Ayo bangun dah pagi nanti terlambat, kan kita mau ambil gambar pas anak-anak berangkat sekolah,” kata saya kepada sang fotograper. Kami berdua langsung bergegas ke atas bukit dimana sekira 20 kepala keluarga berdomosili dan beberapa anak mereka sekolah dengan berjalan kaki padahal jaraknya mencapai 5 kilometer.

Alhamdulillah, kami berdua datang tepat waktu. Di lokasi para siswa sudah bersiap-siap berangkat sekolah meskipun hari masih berkabut. Ada yang sedang sarapan, beberapa memilih sarapan di jalan karena khawatir terlambat. Posisi rumah mereka memang serba sulit, andaikan pemerintah mendirikan sekolah di tempat ini maka jumlah siswanya sedikit dan tidak efektif. Namun andaikan dibiarkan banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah karena kelelahan. Menurut pengakuan guru, anak-anak dari kampung ini sering mengantuk saat jam pelajaran karena kelalahan. 

Kini, momen itu menjadi kisah tersendiri bagi saya yang sudah tidak lagi bekerja di Jawa Pos Group karena mengelola majalah sendiri. Setiap peristiwa, episode dan bab kehidupan yang kita lakoni itulah yang terbaik untuk kita. Andaikan saya tidak pernah bertugas dan meliput mereka mungkin tidak ada tulisah yang menceritakan Pos Ronda. Allah tidak akan membebani nasib suatu kaum melebih batas kemampuannya, demikian firman Allah dalam salah ayat Al-Quran. Wallahu’alam. ***

#Kota Serang, Banten








Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com