close

Februari 28, 2016

Pramugari yang Tak Gengsi


Tenang dan tidak berbuat apa-apa merupakan sesuatu yang berbeda. Maksudnya, tenang bukan berarti menerima perlakuan orang lain yang tidak adil. 
---Jecki Chan---

Berita adanya seorang pramugari yang ditampar pakai gulungan koran oleh seorang oknum pegawai negeri sipil (PNS) Bangka Belitung membuat jemariku bergerak-gerak menyapa huruf-huruf di keyoboards. 

Ada dua alasan, pertama karena aku sendiri memiliki teman di kampus yang menjadi pramugari sehingga sedikit banyak mengenal kepribadian seorang pramugari. 

Kedua, sebagian orang masih mempersepsikan kalau pramugari itu profesi yang hanya dilihat dari kecantikan tanpa melibatkan kepribadian si pramugari itu sendiri.

Indah Purnamasari, itulah nama sahabatku di Universitas Mercu Buana, Jakarta, yang sekarang menjadi Pramugari Garuda Indonesia. Dalam interaksi aku dengan Indah membuatku salut. Ia ditinggal sang ayah dan hidup bersama ibunya di Kota Tangerang. 

Di kampus Indah juga pernah jualan empek-empek sebelum keluar dari pegawai BCA dan dia sendiri loh melayani pembeli yang mayoritas anak-anak kampus. Sebelumnya aku pernah menulis tentang kenekatannya menggeluti bisnis. 

Sebab pengalamanku berbisnis itu tidak mudah, apalagi bisnis makanan basah. Kalau sepi pusing kalau ramai juga tenaganya harus siap-siap cape. Dinamika ini mungkin menjadi hal biasa bagi yang sudah malang melintang di dunia bisnis, tetapi bagi sosok seperti Indah rasanya jauh dari situ. Dan benar saja, iapun memilih meninggalkan bisnis empek-empek dan memilih terbang bersama Garuda Indonesia.

Sampai sekarang aku sering komunikasi dengannya. Terus terang aku ambisi untuk menuliskan kisahnya dalam sebuah novel. Bagiku memiliki wajah cantik, tumbuh semampai, tidaklah mudah. 

Terkadang muncul ego dan merasa cantik sehingga meremehkan orang lain, tidak mau bergaul dengan orang-orang yang selevel. Namun tidak bagi Indah. Ia menyapa, becanda dan hangat kepada setiap orang dan cenderung orangnya lemah lembut, tapi tidak tahu ya kalau ke pacarnya? He he he. Halooo Indah, sekarang terbang kemana kamu?

Jadi, aku agak kurang pas dengan sikap pejabat yang memukul  seorang pramugari Sriwijaya Airlines. Aku cukup sedih karena tindakan seperti itu jelas tidak diperbolehkan, baik kepada pramugari atau siapapun. Bagaimanapun pramugari adalah manusia yang ingin dihargai, ingin dijaga kehormatannya. 

Apalagi pemukulan hanya perkara sepele yaitu mengingatkan penumpang tersebut untuk tidak menyalakan handpone di pesawat. Beginilah kalau seseorang melihat hanya dengan mata. Kemampuan mata melihat kandungan seseorang terbatas maka melihatlah sesuatu dengan hati dan pikiran sehingga tidak salah pengertian. 

Nabi Muhammad Saw pernah memberikan tauladan tentang hal ini, yaitu ketika para sahabat diminta untuk memberikan komentar soal orang-orang yang melintas di depan mereka. Para sahabat ketika itu hanya melihat dengan mata. Bahwa kalau orang kaya suaranya pasti didengar, pasti lebih mulia. 

Padahal, kemuliaan seseorang tidak bisa dilihat dari kekayaan atau posisi seseorang. Kemulian seseorang itu dilihat dengan moralitas dan akhlak dan itu cuma bisa dilihat dengan hati dan pikiran bukan dengan mata. 

Kalau cuma mata yang untuk melihat maka dipastikan sering salah paham dan tafsir menilai seseorang. Apalagi, banyak orang yang membungkus dirinya dengan penampilan yang seakan-akan. Seakan-akan dia orang baik, seakan—akan dia orang mulia, padahal di dalam hatinya ada lingkaran busuk. ***

Penulis,
Karnoto, Penghuni Blog











Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com