close

Januari 04, 2019

Ketika yang Asing Tampil




Empat tahun lalu saya menghadiri peluncuran buku Marketing of The Middle Class Muslim. Saya mengira buku itu biasa saja, membahas seputar marketing yang pernah saya dapatkan saat studi Ilmu Marketing Communication Advertising di salah satu kampus di Jakarta.

Tapi saat hadir ada penyampaian menarik yang buat saya insight, karena baru tahu. Dalam kesempatan itu, sang penulis menyampaikan bahwa seorang muslim yang tingkat ekonominya naik maka akan diiringi kesadaran spiritual yang naik pula.

Waktu itu saya hanya mengaitkan riset ini dengan fenomema hijab. Tapi dua tahun terakhir saya mengamati ternyata masuk juga ke arena politik.

Jangan heran kalau kemudian muslim Indonesia menjadikan Agama sebagai salah satu referensi untuk urusan politik. Itu makanya buat saya pribadi tak begitu aneh, meski bagi sebagian orang terutama mereka yang dirugikan dengan tren ini merasa sebel.

Sebab ini fenomena dunia, jika dulu orang berpolitik menggunakan jargon Islam dianggap asing, sekarang terbalik, mereka yang tak ramah dengan Islam maka akan dianggap asing.

Ga usah kaget dan heran, memang trennya begitu. Bukan hanya dalam politik, tapi tren ini juga berlaku untuk produk komersial. Produk yang tidak mencantumkan label halal atau tidak ramah dengan Islam, bukan hanya tidak dibeli tapi akan dihakimi secara sosial oleh customer.

Jadi, ga usah marah atau kaget, memang trennya begitu. Saya sih sebenarnya paham kenapa mereka marah, karena tren ini akan mengancam positioning mereka, terutama kekuasaan mereka.

Secara histori sebenarnya tren berIslam dalam lini kehidupan bukan hal baru, karena selama 13 abad lamanya pemerintahan Islam pernah berkuasa sampai dimasa akhir Kerajaan Ottonom dihancurkan.

Pusat ilmu yaitu perpustakaan terbesar dan pertama di dunia di Iraq pun tak luput dimusnahkan. Sejak saat itulah khazanah keilmiahan Islam redup.

Dan ketika sekarang muncul gerakan Islam yang masif dan membungkus segala aktivitas seorang muslim secara terbuka sebenarnya hanya ingin mengembalikan masa kejayaan islam sebagai pusat peradaban dunia.

Gerakan ini ingin mengembalikan peradaban Islam yang bisa membuat dunia tersenyum dan damai. Selain itu agar mereka tidak dianggap asing. Dan geliat ini mulai tampak jelas hasilnya setelah sekian tahun lama menanti. Mereka bukan komunitas asing lagi, tapi justru mereka yang tidak mampu adaptasi dengan perubahan ini akan dianggap asing.

Penulis,
Karnoto, Penghuni Blog









Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com