close

Januari 04, 2019

Menanyakan Keadilan Tuhan


Dalam perjalanan ada salah seorang menanyakan, mengapa orang - orang non Islam atau orang Islam yang tak peduli dengan Agamanya rezekinya mengalir. Munculah kesimpulan bahwa Tuhan tidak adil.

Padahal dalam sisi lain Tuhan (Allah SWT) memastikan bahwa Dia akan menjamin rezeki setiap hambaNya yang beriman. Tapi kenapa justru tidak sejahtera kehidupan ekonominya.

Nah Loh...
Pertanyaan menukik dan jangan langsung Anda hakimi orang yang bertanya sebagai orang yang tidak beriman. Dia hanya butuh penegasan dan ditunjukan dimana keadilan Tuhan jika ada peristiwa seperti itu.

Pertama dalam Perspektif Negara.
Melihat kehidupan Muslim dalam konteks ekonomi jangan cuma di Indonesia. Tapi lihat secara menyeluruh, di Abu Dhabi misalnya, muslim di sana kaya - kaya, di Turki juga banyak anak - anak muda Muslim yang kaya raya.

Lalu kenapa di Indonesia masih belum sebanyak di negara lain? Ini dia problematikanya. Jadi bukan pada seseorang taat atau tidak, ada juga variabel lain dalam perspektif negara.

Sejauhmana negara tersebut bisa mendistribusikan anggaran, memberikan akses yang adil terhadap warga negaranya. Apakah sudah ada rasa keadilan?

Coba saja diukur perbandingan gaji antara Indonesia dengan Abu Dhabi atau Turki, pasti beda jauh.

Kedua Perspektif Personality
Disini nih kita bisa masuk. Data terakhir, jumlah pengusaha Indonesia itu baru 0 koma sekian persen, Singapura 3 persen, Malaysia 1 koma sekian persen bahkan konon sekarang sudah mencapai 2 persen sekian. Di Turki dan Abu Dhabi apalagi, belum di Eropa pasti jauh lebih banyak pengusahanya.

Dalam sebuah diskusi, Rhenald Kasali menyampaikan pola sederhana untuk mengentaskan kemiskinan, yaitu perbanyak pengusaha. Jika disumsikan satu pengusaha bisa mempekerjakan 10 karyawan maka kalau ada 100 pengusaha sudah ada 1.000 orang yang tidak nganggur alias punya penghasilan.

Dalam faktanya, negara - negara yang maju dengan ekonomi yang baik dipastikan jumlah warga negara yang menjadi pengusaha banyak.

Masalahnya menjadi pengusaha itu tidak gampang, apalagi bagi seseorang yang mainstream atau pola fikirnya karyawan. Jelas ini menjadi masalah tesendiri, karena entrepreneur itu bukan urusan modal, tapi mental sebab menjadi pengusaha ga selalu berhasil.

Ada naik turun, ada ramai ada sepi. Otaknya juga harus diperas supaya penjualan dan keuntungan meningkat dari hari ke hari. Disinilah personality seseorang butuh energi besar, energi untuk kreatif, energi untuk membaca perubahan pasar, energi untuk memunculkan produk yang sesuai keinginan pasar, energi mengatur keuangan, energi membaca peluang dan energi - energi lainnya. Jadi memang tidak mudah.

Saya ambil contoh, usaha saya sendiri. Dulu pernah usaha sate kambing tapi gulung tikar, pernah juga usaha kuliner Rujak Belut juga gagal dan sekarang sedang menekuni usaha Bawang Goreng Khas Brebes, Alhamdulillah masih berjalan.
Soklah yang mau pesen bisa WA ke 085921029049. Bisa eceran, bisa juga grosir.

Sembari juga usaha menjadi publisher sejumlah affiliate seperti google adsense dan dari perusahaan affiliate dari Jepang. Tak mudah memang, apalagi belajar disaat dewasa yang berkejaran dengan lainnya. Jelas tantanganya lebih berat ketimbang mereka pengusaha yang masih sendiri atau belajar menjadi pengusaha sejak belia.

Perspektif Ketiga adalah Perspektif Illahiah.
Ini memang yang membutuhkan iman dan keyakinan, bukan sekadar akal. Perspektif rezeki dalam Islam dipastikan bukan hanya bentuk uang, padahal sisi lain kebanyakan kita menginginkan uang. Rezeki itu bentuknya banyak, bisa relasi, kesehatan, semangat, dipertemukan dengan komunitas yang soleh dan solehah, terhindar dari bencana dan lainnya, itu semua rezeki.

Ini yang sering menjadi benturan antara persepktif sebagian orang dengan perspektif Illahiah. Dalam perspektif sebagian orang rezeki hanya materi dalam bentuk kekayaan, sedangkan dalam perspektif Illahiah tak melulu uang. Maka letakanlah perspektif rezeki kita sesuai dengan perspektif Illahiah, itu kalau kita masih yakin dengan Tuhan kita.

Hal kedua adalah dalam Islam ada yang disebut dengan Isti'roj, artinya Tuhan memang sengaja mengulur - ulur seseorang dengan harta, kekuasaan meskipun mereka dzalim, mereka tak peduli terhadap Agamanya. Punishmentnya akan diberikan secara akumulasi kelak diakhirat.

Sebenarnya ini lebih serem dan mengerikan jika ini menimpa pada diri kita. Seolah -olah Tuhan cuek dan membiarkan kita melakukan apa saja yang kita sukai, tanpa mau menegur atau mengingatkan ketika kita terpeleset padahal manusia tempatnya salah. Bayangin coba, manusia dicuekin sama Tuhan. Kita dicuekin sama pasangan atau orangtua kita atau sahabat kita saja perasaanya tidak enak, apalagi Tuhan yang cuek.

Pertanyaan lanjutnya muncul, lalu bagaimana kita menyikapinya? Relnya sebenarnya sudah jelas dua tameng yaitu Sabar dan Syukur. Itu dua kunci yang diberikan Tuhan kepada Muslim. Ketika diberi kelapangan, kekayaan dan kekuasaan bersyukur dan ketika diberi kesempitan, kesulitan dan kekurangan bersabar.

Selesaikah dengan dua kunci itu? Ga juga! He he he he..berat amat ya? He he he. Ujung kunci itu adalah istiqomah. Ini yang paling berat. Sejauhmana kemampuan kita bertahan dengan kesabaran dengan tetap rajin ibadah dan positif thingking kepada Tuhan dan sejauhmana kita mampu menjadi manusia bersyukur bahwa apa yang kita miliki hanya titipan Jika kita goyang atau retak maka akan membawa konsekuensi.

Konsukeunsi bagi orang yang tidak bersyukur maka akan dilumatkan seluruh harta dan kekuasaanya, itu pernah terjadi kok sejak zaman nabi. Bahkan Nabi Sulaiman sendiri pernah dihabiskan hartanya gara - garanya sok kaya gitu, mau menjamin seluruh mahluk Tuhan, tapi baru ikan yang makan semua stok pangannya sudah habis. Untung Nabi Sulaiman segera bertaubat dan diampuni.

Karnoto,








Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com