close

September 26, 2019

Majalah Termahal di Dunia



Seumur - umur saya menjadi jurnalis di media mainstream sampai sekarang mengelola media sendiri saya benar - benar kaget sendiri dengan majalah versi cetak saya yang jumlah eksklusive alias sangat terbatas, cuma 100 eksmplar. Tapi, jangan lihat jumlahnya ya sebab ternyata majalah saya pernah terjual mahal.

Satu eksemplar majalah dihargai Rp 600 ribu. Serius? Yah seriuslah. Waow muahal banget majalahnya ya. Itu dia saya juga heran sendiri kenapa orang ini mau membeli majalah saya yang terbatas dan dikerjakan secara super cepat tetapi ada yang mau beli Rp 600 ribu per eksmplar. Ini kisah nyata dan mengherankan, bukan saja Anda saya sendiri heran kok! He he he he

Majalah Persepsi Versi Cetak ini edisi tahun 2018 lalu dengan bahasan utama Perempuan dan Politik. Disana saya mengulas beberapa figure politisi perempuan, mulai dari kepala daerah, anggota DPR RI dan DPRD.

Disana saya mengulas salah seorang profil politisi perempuan (tidak perlu saya sebutkan namanya) yang pasti dari partai nasionalis. Majalah ini saya tawarkan iseng - iseng ke sejumlah tokoh perempuan dan diluar dugaan respon mereka luar biasa dan sampai mereka mau membuat janjian ketemu dengan saya untuk membeli majalah itu.

Akhirnya saya dan orang inipun membuat janjian di salah satu kafe di Kota Tangerang. Dan sesuai permintaanya saya pun membawa satu majalah versi cetak full colour dan berisi 50 halaman dengan biaya cetak kurang lebih Rp 45 ribu, maklum saya harus menggunakan printing karena dicetak sangat terbatas jadi tidak mungkin dicetak dengan mesin percetakan.

Dan ketika saya bawa ia pun langsung meminta majalah itu diberikanlah saya uang Rp 600 ribu untuk satu eksemplar majalah. Dalam batin saya waktu itu mengatakan coba kalau 100 eksmplar dihargai Rp 600 ribu semua, bisa cepat kaya saya nih, ha ha ha ha.

Dan mungkin majalah saya boleh dibilang termahal di dunia, ha ha ha ha!. Terlepas dari apapun alasannya ia membeli majalah saya no problem, tetapi paling tidak saya pernah membuat sejarah untuk diri saya bahwa majalah saya dihargai Rp 600 ribu per eksmplar. Dan ada orang lain yang menghargai karya intelektual saya dalam bentuk majalah.

Apa yang ingin saya sampaikan pada kasus diatas? Begini, pertama disini saya membuktikan teori bahwa riset pasar terkait need dan want customer itu menjadi sesuatu yang sangat penting agar saat kita menjual produk bisa memiliki interest dengan customer.

Bukan hanya akan dibeli, melainkan akan dibeli diluar pasaran. Kedua, relationship dengan customer itu menjadi penting, artinya komunikasi kita dengan customer jangan sebatas antara penjual dengan pembeli karena ini akan berdampak terhadap mainstream customer yang pasti kaku dan tentunya akan memperhitungkan logika membeli.

Logika membeli pasti akan dikaitkan dengan bentuk produk,volume produk dan perfectionist produk itu sendiri. Tetapi ketika relationship kita dengan customer lebih dalam dari sekadar hubungan antara penjual dan pembeli maka mereka akan menghargai produk kita bukan sekadar produk yang bagus, tetapi karena ada hubungan emosional.

Nah, hubungan emosional kita (pemilik brand) dengan customer itu bentuknya macam - macam. Dan ini pula yang dilakukan sejumlah brand terkemuka. Jangan heran kalau kemudian produk mereka yang menurut kita tidak berharga tetapi harganya bisa selangit.

Relationship antara kita dengan customer yang terbangun dengan baik maka akan membuat hubungannya menjadi dalam. Filosofi ini sejalan dengan pendapat pakar marketing Indonesia yaitu Hermawan Kertajaya bahwa pembeli bukanlah raja, melainkan sahabat.

Jargon bahwa pembeli adalah raja itu jargon jaman dulu dan sekarang tidak relefan lagi karena kalau posisi itu yang dipakai maka ada kecenderngan customer bisa sewenang - wenang, tetapi kalau hubungan antara brand dengan pembeli sebagai sahabat maka akan ada jembatan pengertian.

Ketika ada problem pada produk kita mereka akan memberikan masukan, tanpa menghakimi karena berangkat dari hubungannya sebagai sahabat bukan antara raja dengan bawahan.

Kalau toh ada kekurangpuasan terhadap produk customer pasti akan memberikan masukan dengan cara elegan dan tidak menghakimi karena mereka tulus dengan produk kita, tanpa harus dipaksa untuk membeli.

Dan terakhir, poin dari yang saya ceritakan di atas adalah bahwa sebuah produk memiliki marketnya masing - masing. Mungkin majalah saya akan diabaikan ketika saya menawarkan kepada market yang salah. Jangankan dihargai ratusan ribu, dibacapun pasti tidak!

Jadi, disinilah pentingnya melakukan riset target market sehingga kita memiliki definisi atau mengetahui secara utuh siapa market kita, apa yang mereka butuhkan dan problem apa yang mereka hadapai terkait produk sehingga kita bisa mencari jalan keluar untuk mereka.

Disinilah customer akan menghargai kita sekaligus produk kita dan efeknya mereka akan menjadi loyalis dan customer setia kita, tanpa mereka merasa terpaksa karena iklan atau iming - iming diskon. Semoga tulisan ini bermanfaat!

Penulis,
Karnoto, Penghuni Blog








Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com