close

September 13, 2019

Setop Beriklan, Sekarang Juga !


Jangan pernah ada dalam fikiran kita ketika kita membuat advertising content seolah - olah konsumen seperti benda mati, bodoh dan tak punya perasaan. Mereka adalah mahluk hidup yang punya cita rasa, insting dan naluri. Oleh karena itu berhentilah membuat iklan jika masih belum mampu bercerita melalui konten iklan.

Tahukan Anda bahwa sekarang terjadi apa yang sering dikatakan para ahli marketing dengan sebutan kekacauan iklan. Sebuah keadaan dimana iklan berseliweran tanpa ada penyaringan karena saking derasnya iklan yang muncul diberbagai media.

Mulai dari kamar mandi, tempat tidur, dapur, ruang tamu, halaman rumah, bus, angkutan umum, halte, stasiun, bandara, kampus, sekolah, handphone bahkan menempel dalam pakain. Dalam sebuah survei terhadap 2.000 responden yang dilakukan  biro survey Vizu dan Greg Stuart disebutkan bahwa 62 persen responden sangat tidak menyukai iklan, 73 persen menganggap iklan sangat mengganggu dan 56 persen responden menginginkan agar kehidupannya dijauhkan dari iklan (Vizu dan Greg Stuart, 2008).

Untuk meyakinkan survei ini, silahkan kita bicara pada diri kita masing - masing dengan jujur. Lalu kalau demikian bagaimana cara kita bisa beriklan tetapi terhindar dari ketiga hal di atas? Ajaklah konsumen bicara melalui konten iklan Anda.

Strategi ini sudah mulai dilakukan oleh brand - brand terkenal. "Papah, genteng rumah bocor. Betulin dong," pinta salah seorang perempuan kepada seorang laki - laki yang sedang membaca koran. Permintaan sampai dua kali ternyata sang suami tak beranjak sedikitpun, bukan ia tidak mendengar tetapi ada sesuatu.

Disinilah mulai brand itu masuk. Sang perempuan tadi masuk ke dapur dan saat di dapur mulailah demo produk itu setelah itu ia membawa secangkir teh ke kursi dimana sang suami duduk. Apa yang terjadi? Seketika itu sang suami katakan, "dimana genteng yang bocor, sini Ayah perbaiki," kata sang suami seraya beranjak ke dalam rumah.

Itulah konten iklan sebuah brand teh tanah air yang kemudian dikristalisasi dengan membuat sebuah situs khusus yang berisi kisah dan cerita para pasangan suami istri dalam aktivitas kesehariannya yang sudah pasti harus ada kisah brand tersebut. Dan dua kata itu mulai akrab ditelinga konsumen tanah air, yaitu MariBicara.

Atau ada juga konten iklan brand kosmetik yang iklannya juga bercerita. Diceritakan dalam iklan itu, seorang artis sedang berjalan dan merasa panas. Ia kisahkan sekelumit pengalamannya itu lalu mulailah masuk konten utama yaitu brand tersebut. Dan masih banyak lagi brand - brand terkemuka yang sekarang menggunakan strategi konten iklan bercerita.

Hal ini pula yang dilakukan MahartiBrand, sebuah usaha yang bergerak disektor jasa konsultan brand. MahartiBrand memberikan knowladge kepada klien agar mereka mengerti kenapa harus bikin ini, kenapa harus bikin itu dan sebagainya. Saat menawarkan jasa pembuatan media internal kesalahsatu BUMD Provinsi Banten yang bergerak disektor jasa keuangan yaitu PT Jamkrida, MahartiBrand melakukan diskusi mengapa mereka harus memiliki media internal perusahaan dan isinya tentang cerita.

Kenapa ini efektif? Pertama sifat dasar manusia adalah menyukai cerita. Itu makanya manusia menyukai gosip karena pada gosip ada muatan ceritanya. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Social Psychological and Personality Science menjelaskan lebih mendalam tentang kebisaan ini. Peneliti menemukan bahwa setiap orang setidaknya menghabiskan waktu 52 menit per hari untuk bergosip.

Aspek psikologi inilah yang kemudian dirancang oleh para pakar marketing dalam sebuah studi yang disebut dengan Perilaku Konsumen. Kalau Anda studi tentang komunikasi pemasaran maka ini menjadi mata kuliah wajib, karena disana akan lebih banyak bicara perilaku manusia dan hubungannya dengan pemasaran sebuah produk komersial.

Sederhanakah Membuat Iklan
Sekilas memang sederhana membuat iklan, cukup ke ahli desain grafis dan minta dibuatkan. Padahal, pembuatan iklan butuh proses, mulai breaf perihal brand produk tersebut, target pasar yang akan dibidik dalam iklan, media apa yang mau dipakai.

Apa tujuan iklannya, apakah awarnness, persuasif atau sekadar reminder. Hal - hal itulah yang akan memengaruhi konten iklan sebuah brand. Jangan samakan konten iklan yang baru pada tahap awarnnes dengan konten iklan yang sudah pada level persuasif apalagi dengan yang sudah masuk ke reminder atau sekadar mengingatkan.

Bagi brand - brand lama yang masih eksis sudah pasti konten iklan hanya reminder. Kalau kita jeli coba lihat iklan pada brand - brand lama, hampir semua kontennya berisi reminder dengan kontennya masing - masing, ada yang dengan konten "Kami Percaya Semenjak Dulu," atau ada juga brand menuliskan tahun sejak mereka lahir.

Lalu bagaimana sebenarnya proses membuat iklan yang runut, sistematis sehingga benar - benar tepat sasaran. Nanti akan saya ulas pada tulisan berikutnya karena untuk pribadi saya, ini bagian proses menabung tulisan untuk diunduh kedalam sebuah buku.

Penulis,
Karnoto, Penghuni Blog









Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com