close

Oktober 05, 2019

Wanita Jadi Target Utama Iklan

Analisis pakar Marketing Indonesia Hermawan Kertajaya perihal marketing venus sepertinya memang benar adanya. Ini terlihat nyata ketika melihat iklan produk yang berseliweran di media, baik televisi, outdoor, media cetak maupun online. Nyaris tak ada iklan yang melibatkan seorang wanita.

Mengapa wanita menjadi target utama iklan produk? Padahal secara umum yang mencari uang atau bekerja adalah kaum Adam. Disinilah menariknya. Sekarang kita coba berterus terang perihal konsumsi produk selama ini, memang faktanya wanita memiliki perana dominan ketika memutuskan untuk membeli sebuah produk.

Mulai dari mobil, motor, rumah, fesyen, makanan, cat rumah sampai urusan WC pun selalu melibatkan para wanita. Karena inilah sejumlah brand selalu menyasar para wanita untuk dijadikan target utama iklan.

Seperti diketahui, iklan adalah cara kita mengkomunikasikan sebuah produk dengan calon customer. Oleh karena sifatnya komunikasi maka iklan yang membidik kaum hawa ini mayoritas lebih banyak menyuguhkan konten - konten yang emosional dan biasanya lebih banyak bercerita.

Dalam teori Marketing Communication Advertising, aspek psikologis dalam membuat konten iklan memang menjadi sesuatu hal yang tidak boleh disepelakan. Iklan yang terlalu laki - laki atau to the poin sudah mulai ditinggalkan karena dianggap kaku dan tidak menyentuh sisi emosional calon customer apalagi ditargetkan untuk para wanita.

Coba Anda perhatikan iklan brand - brand ternama, hampir keseluruhan menggunakan strategi konten bercerita. Apalagi bercerita memang menjadi kebiasaan kuat para wanita, itu makanya acara - cara gosip paling diminati karena didalamnya sarat dengna cerita kendati sering dilebih - lebihkan.

Studi kasus misalkan iklan mobil Mitsubishi Expander, dimana dalam iklan tersebut diceritakan sebuah keluarga saling mengklaim bahwa dirinya yang benar perihal mengapa membeli mobil tersebut. Anda perhatikan dalam iklan tersebut betapa customer perempuan memiliki peran strategis, kendati yang bekerja adalah sang suami.

Apakah ini bisa diterapkan untuk produk sektor riil? Jelas bisa! Semua itu tergantung kemampuan kita membuat konten iklan yang emosional dan memerhatikan aspek psikologisnya. Kalau Anda belajar Psikologis Konsumen maka disana akan dipelajari tentang hal - hal di atas yang bisa menjadi referensi kita dalam membuat iklan.

Saya sendiri dalam mengelola iklan untuk Maharti Brand, lembaga konsultan brand yang saya kelola pun menggunakan strategi itu karena dianggap lebih mencerahkan dan bisa dinikmati calon konsumen. Beberapa iklan Maharti Brand jarang bahkan hampir tidak pernah memuat konten iklan yang laki - laki banget, artinya to the point. Konten iklan ini selalu saya hindari karena ada perubahan psikologi konsumen di tengah terjadinya kekacauan ikaln saat ini.

Tentang bagaimana membuat konten iklan yang emosional dan membidik apa yang sering disebut Hermawan Kertajaya sebagai marketing venus akan saya jelaskan pada tulisan berikutnya. Semoga para pembaca tulisan saya bisa terus menengok website personal saya ini.

Penulis,
Karnoto








Contact Us

WhatsApp :

+62 859 210 290 49

Home :

Banjar Agung Indah Blok F44, No.6 Cipocok Jaya,
Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com